London memanggil Kuasa Usaha Iran di Inggris, Ali Nasimfar, ke Kementerian Luar Negeri pada Selasa (14/7) setelah secara terbuka menuding pasukan Quds Force Korps Garda Revolusi Iran (IRGC-QF) sebagai otak di balik serangkaian serangan yang mengguncang sejumlah negara di Eropa.
Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris (FCDO) menyebut serangan itu berlangsung dalam rentang Maret hingga Mei 2026, diklaim dikoordinasikan langsung oleh IRGC-QF lewat jaringan kelompok proksi. Tuduhan serius. Tapi tanpa rincian spesifik soal target atau modus yang dipublikasikan, klaim ini agaknya masih akan diperdebatkan panjang di jalur diplomatik.
Tehran menolak keras. Pihak Iran mengecam langkah London sebagai tidak berdasar, dan menyebut pemanggilan Nasimfar bukan dialog, melainkan provokasi. Entah kebetulan atau tidak, gesekan semacam ini bukan skenario baru antara kedua negara. Hubungan Inggris-Iran sudah lama ringkih, diperparah silih berganti oleh program nuklir Tehran, penahanan warga negara ganda, sampai saling usir diplomat.
Pemanggilan Nasimfar bukan sekadar pernyataan pers. Ini sinyal diplomatik yang cukup keras: London mengklaim memegang bukti, dan ingin Tehran tahu itu. Setidaknya itu klaim yang ingin mereka sampaikan.
Pertanyaannya, langkah ini berakhir di mana? Apakah diikuti sanksi konkret, atau hanya berhenti di level pemanggilan? Respons negara-negara Eropa lain yang menjadi lokasi serangan pun akan menentukan seberapa jauh tekanan kolektif bisa membentuk kalkulasi Tehran.