Lima orang ditangkap di sekitar Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Fairford, Gloucestershire, pada 27 September lalu. Usia mereka 20-an tahun, ditahan atas dugaan pelanggaran terkait bahan peledak dan terorisme, setelah polisi mendapat laporan soal tiga van mencurigakan yang menuju pangkalan itu. Keesokan harinya, kelimanya dibebaskan dengan jaminan, setelah aparat memeriksa barang-barang dalam van serta sejumlah alamat di berbagai wilayah London.
Kasus ini, bagaimanapun, tidak selesai di situ.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham langsung mengarahkan telunjuk ke Teheran: dugaan rencana serangan itu, ujarnya, "sangat mungkin" dikoordinasikan dari Iran dan "hampir pasti" diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Fairford bukan pangkalan sembarangan, karena lokasi itu pernah digunakan militer AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Teheran tidak tinggal diam. Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin (12/10) mengecam pernyataan London yang dinilai tidak didukung bukti memadai. Bagi Teheran, langkah itu tak lebih dari "siasat kotor" untuk membangun sentimen anti-Iran sekaligus mengalihkan perhatian publik dari keterlibatan Inggris dalam konflik militer AS-Israel terhadap Iran. Frasa ambigu seperti "sangat mungkin" dan "hampir pasti" justru jadi sasaran tembak: bagi Teheran, diksi semacam itu memperlihatkan betapa tipisnya fondasi bukti yang dimiliki London.
Dua warga Iran dilaporkan turut dijatuhi sanksi dalam rangkaian kasus ini. Rincian identitas dan dasar sanksi belum diungkap penuh ke publik. Sanksi datang bersamaan dengan tuduhan pemerintah yang, sampai hari ini, belum bisa diverifikasi secara independen.
Pertanyaannya sederhana: apakah penyelidikan kepolisian Inggris akhirnya akan menghasilkan cukup bukti untuk menopang klaim PM Burnham? Kalau data dan bukti itu memang ada, inilah momennya. Kalau tidak, langkah diplomatik London ini berisiko tercatat bukan sebagai tindakan tegas berbasis intelijen, melainkan sebagai blunder yang mempermalukan sendiri.