Tekanan harga di Provinsi Riau belum juga mereda. BPS Provinsi Riau merilis angka inflasi tahunan Juni 2026 sebesar 4,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen mencapai 113,28, mencerminkan kenaikan biaya hidup yang terasa di hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.
Sebaran antarwilayah cukup mencolok. Kabupaten Kampar mencatatkan inflasi tertinggi di angka 4,90 persen dengan IHK 114,22. Di ujung lain, Kota Dumai relatif lebih jinak: 4,30 persen dengan IHK 113,33. Selisih hampir 0,6 poin persentase dalam satu provinsi ini bukan angka kecil. Sinyal bahwa dinamika harga di tingkat lokal jauh dari seragam.
Dari sisi struktur, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi yang paling melejit dengan kenaikan 10,77 persen secara tahunan. Tapi kontribusi terbesar terhadap inflasi justru datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menyumbang andil 2,31 persen dari total 4,55 persen. Kelompok ini sendiri naik 7,22 persen. Wajar jadi sorotan, mengingat porsi pengeluaran pangan masih mendominasi kantong sebagian besar rumah tangga Riau.
Kepala BPS Provinsi Riau Asep Riyadi merinci komoditas yang paling banyak mengerek harga. "Emas perhiasan, cabai merah, bensin, biaya akademi atau perguruan tinggi, minyak goreng, biaya pemeliharaan atau servis kendaraan, ikan patin, Sigaret Kretek Mesin, angkutan udara, hingga daging ayam ras masuk dalam daftar komoditas dengan andil inflasi terbesar," jelasnya dalam rilis resmi BPS, Rabu (1/7/2026).
Emas perhiasan dan cabai merah dalam satu daftar, agaknya merangkum dua tekanan yang sama sekali berbeda asal-usulnya: efek harga aset global yang merembet ke pasar perhiasan lokal, dan volatilitas pasokan pangan yang memang jadi langganan tiap pertengahan tahun. Bak dua jalur api yang kebetulan menyatu.
Kelompok pendidikan naik 5,08 persen secara tahunan dengan andil 0,23 persen. Biaya akademi dan perguruan tinggi masuk jajaran komoditas inflasi utama, kemungkinan besar karena penyesuaian biaya semester baru yang bertepatan dengan pertengahan 2026. Transportasi ikut mengerek inflasi 4,38 persen, dipicu antara lain harga bensin dan tarif angkutan udara.
Ada sedikit angin segar. Dua kelompok justru mencatatkan deflasi: perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rumah tangga turun 0,36 persen, sementara pakaian dan alas kaki terkoreksi tipis 0,03 persen. Komoditas penekan harga antara lain sabun deterjen, jengkol, kentang, masker, buncis, serta produk sandang seperti gaun wanita, blus, dan celana panjang jeans. Setidaknya itu jadi peredam parsial, kalau data ini bisa dipercaya sebagai tren dan bukan sekadar koreksi sesaat.
Secara bulanan, inflasi Riau Juni 2026 tercatat 0,35 persen. Sejak Januari, inflasi kalender sudah di angka 0,96 persen. Pertanyaannya, berapa lama sebelum angka year to date ini menembus 1 persen? Kalau tekanan dari pangan dan energi tidak segera mereda, jawabannya mungkin tidak perlu menunggu lama.