Sejak 10 Juni 2026, harga Pertamax di SPBU resmi melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, naik lebih dari 32% dalam satu hari. Kenaikan itu bukan cuma soal ongkos isi bensin, tapi sinyal awal bahwa inflasi Juni 2026 bakal lebih panas dari bulan sebelumnya.
BPS akan mengumumkan data resmi inflasi Juni pada Rabu, 1 Juli 2026. Konsensus dari 13 institusi yang dihimpun memperkirakan Indeks Harga Konsumen naik 0,30% secara bulanan dan 3,2% secara tahunan. Keduanya di atas realisasi Mei 2026 yang tercatat 0,28% (mtm) dan 3,08% (yoy). Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual bahkan mematok proyeksi lebih agresif: 0,55% secara bulanan dan 3,45% secara tahunan.
Tiga tekanan datang bersamaan. BBM non-subsidi naik, rupiah melemah, harga pangan belum jinak. Bak tiga ombak yang menghantam sekaligus.
Per akhir Juni 2026, rupiah parkir di level Rp17.893 per dolar AS, terdepresiasi 0,16% sepanjang bulan. Bagi ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang, pelemahan kurs ini bukan sekadar angka di layar trading. "Kenaikan inflasi ini dipicu dampak first-round effect kebijakan penyesuaian harga BBM Pertamax yang mengerek pos transportasi, diperberat pula oleh kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah dan masih tingginya harga minyak mentah di pasar global," tegasnya. Biaya bahan baku impor naik, ongkos logistik membengkak, dan efeknya mulai merembet ke harga barang dan jasa di dalam negeri.
Di sisi pangan, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional memperlihatkan gambaran yang cukup gamblang. Bawang merah melonjak 11,38% ke rata-rata Rp53.330 per kg. Bawang putih terkerek 8,21% ke Rp42.014 per kg. Cabai rawit merah naik 3,50% ke Rp73.325 per kg. Minyak goreng kemasan bermerek pun ikut melesat 1,38% ke Rp24.223 per kg.
Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menyebut tekanan utama datang dari beras, gula, minyak goreng, gandum, kedelai, dan bawang putih, ditambah transmisi kenaikan harga minyak dunia ke BBM non-subsidi. Entah kebetulan atau tidak, semua faktor ini muncul bersamaan dalam satu bulan.
Meski demikian, tidak semua komoditas kompak naik. Daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, dan bawang merah justru tercatat turun pada periode yang sama. Harga emas dunia yang melandai juga ikut meredam tekanan di segmen perhiasan. Faktor-faktor ini yang agaknya menjaga proyeksi inflasi agar tidak amblas lebih jauh dari konsensus.
Kenaikan BBM non-subsidi berlaku lintas operator. Selain Pertamina, BP-AKR menaikkan harga BP 92 dari Rp12.390 menjadi Rp16.670 per liter, BP Ultimate naik dari Rp12.930 menjadi Rp17.240 per liter. Vivo Indonesia mengikuti dengan Revvo 95 yang kini dibanderol Rp17.240 per liter dari sebelumnya Rp12.930 per liter. Celah lama sudah tertutup. Konsumen yang biasa lompat ke SPBU lain saat satu operator menaikkan harga kini tak punya pilihan.
Pertanyaannya, seberapa dalam tekanan ini akan bertransmisi ke inflasi inti? Pada Mei, inflasi inti masih relatif terkendali di 2,59% (yoy). Jawaban resminya ada di rilis BPS besok pagi.