SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Indonesia Peringkat Dua, Saudi Catat Lonjakan Jema...

Internasional

Indonesia Peringkat Dua, Saudi Catat Lonjakan Jemaah Umrah 22,5 Persen

Jumlah jemaah umrah global melonjak 22,5 persen di awal musim 1448 H, dengan Indonesia menembus 170 ribu orang dan mengunci posisi kedua terbanyak di dunia.

Packed scenes from Masjid al-Haram — 8.1+ million Umrah pilgrims in the first 10 days of Ramadan 1447H.

Angka 170 ribu bukan sekadar statistik migrasi spiritual. Musim umrah 1448 H baru saja membuka babak baru: Indonesia resmi tercatat sebagai negara pengirim jemaah umrah terbanyak kedua di dunia, sementara secara global jumlah peziarah ke Tanah Suci melonjak 22,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan ini bukan terjadi begitu saja. Arab Saudi sudah lama bergerak di dua jalur sekaligus: memperluas kapasitas fisik dan membenahi kualitas layanan. Kini Riyadh melangkah ke dimensi yang lebih jauh, standardisasi pengalaman ibadah lewat ekosistem digital.

Kementerian Haji dan Umrah Saudi baru saja meluncurkan "Panduan Ziarah dan Umrah", panduan resmi yang tersedia dalam 16 bahasa, termasuk Indonesia. Aksesnya melalui situs resmi kementerian. Strukturnya mengikuti alur perjalanan jemaah secara kronologis, dari persiapan sebelum berangkat, prosedur visa, tata cara ihram, tawaf, sa'i, kunjungan ke Masjid Nabawi, hingga prosedur kepulangan.

Isinya komprehensif, bisa jadi melebihi ekspektasi. Bukan cuma ritual. Panduan ini memuat peta interaktif, tautan ke platform digital resmi, panduan kesehatan dan keselamatan, nomor-nomor darurat, etika mengunjungi tempat suci. Sasarannya agaknya satu masalah lama yang belum tuntas: jemaah yang masih mengandalkan konten media sosial atau sumber tak terverifikasi sebagai referensi utama sebelum berangkat.

Bagi jemaah Indonesia, ini bisa jadi pelengkap yang selama ini absen. Materi manasik selama ini hampir sepenuhnya bergantung pada masing-masing penyelenggara perjalanan, kualitasnya bervariasi. Dengan panduan resmi berbahasa Indonesia langsung dari otoritas Saudi, risiko miskomunikasi di Tanah Suci, yang kerap berujung pada pelanggaran prosedur, berpotensi dipangkas.

Soal timing peluncurannya: menarik. Saudi tidak memilih puncak musim haji, tapi justru awal musim umrah, tepat ketika arus jemaah mulai mengalir deras. Entah kebetulan atau tidak, momen ini bertepatan persis dengan periode ketika angka kunjungan sedang meledak.

Pertanyaannya kemudian bergeser. Bukan lagi soal berapa banyak yang datang, kalau data ini bisa dipercaya tren kenaikannya memang konsisten. Yang lebih mendesak: seberapa siap sistem layanan Saudi menampung lonjakan itu tanpa mengorbankan kualitas pengalaman ibadah? Dan seberapa siap jemaahnya sendiri?