MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Indonesia Peringkat 3 ASEAN di Indeks Kemakmuran 2...

Internasional

Indonesia Peringkat 3 ASEAN di Indeks Kemakmuran 2026, Skornya Justru Turun

Indonesia masuk tiga besar negara paling makmur di Asia Tenggara versi Legatum Prosperity Index 2026, namun skor kemakmurannya justru merosot 0,12 poin dibanding tahun sebelumnya.

Indonesia Masuk 3 Besar Negara Termakmur ASEAN 2026

Legatum Prosperity Index 2026 menempatkan Indonesia di posisi ketiga negara paling makmur di Asia Tenggara, dengan skor 66,89 dan peringkat ke-64 dari 161 negara yang dinilai. Solid di permukaan. Tapi ada yang perlu digarisbawahi: skor Indonesia tahun ini turun dari 67,01 menjadi 66,89.

Penurunan 0,12 poin memang kecil. Yang bikin ini bukan sekadar statistik sepele adalah konteksnya: posisi ketiga Indonesia bukan hasil dari kemajuan nyata, melainkan karena negara-negara di bawahnya belum bergerak cukup cepat untuk menyalip. Thailand, yang bercokol tepat di belakang dengan skor 65,72, hanya terpaut 1,17 poin. Jarak yang tipis untuk selisih satu peringkat regional.

Singapura tetap tak terbendung di puncak ASEAN dengan skor 83,80, setara peringkat ke-23 dunia. Malaysia di posisi kedua dengan 73,03. Gap Indonesia ke Malaysia: 6,14 poin. Bukan angka yang bisa ditutup hanya dengan bertahan.

Indeks ini tidak mengukur kemakmuran dari PDB semata. Legatum mempertimbangkan tiga domain besar: Development, Freedom, dan Society, yang mencakup kualitas pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keamanan, kebebasan sipil, hingga kondisi sosial masyarakat.

Domain Society menjadi tumpuan terbesar Indonesia dengan skor 70,39. Pilar komunitas bahkan mencatat 84,99, tertinggi di antara seluruh indikator yang dinilai. Ikatan sosial dan keluarga, yang kerap dianggap "lunak" dalam ukuran kemakmuran konvensional, justru menjadi penopang utama posisi Indonesia di indeks ini, dengan pilar keluarga mencatat 78,84.

Domain Development berada di 69,01. Pendidikan mencatat skor 81,99 dan kesehatan 76,47, dua pilar yang relatif kokoh. Tapi standar hidup hanya 61,08. Di situlah kondisi nyata masyarakat sehari-hari paling terasa, dan angkanya tidak menggembirakan.

Sisi yang agaknya paling perlu dikhawatirkan ada di domain Freedom, dengan skor 61,90. Di dalam domain Development, pilar Negara/Institusi hanya meraup 47,91. Pekerjaan rumah yang serius. Kebebasan Berpendapat 65,12, Kebebasan Ekonomi 60,45, Perdamaian Sipil 60,32, ketiganya masih jauh dari level yang dibutuhkan kalau Indonesia ingin naik kelas dari sekadar mempertahankan posisi.

Pertanyaannya, berapa lama tren mundur ini bisa dibiarkan?

Secara global, Norwegia memimpin dunia dengan skor 91,6, diikuti Islandia (90,1) dan Denmark (90,0). Eropa Utara mendominasi jajaran teratas. Jarak antara negara-negara Skandinavia dengan Indonesia mencerminkan betapa lebarnya ruang yang masih bisa dikejar, kalau data ini bisa dipercaya sebagai peta jalan.

Di ASEAN sendiri, peta kemakmuran terbilang timpang. Filipina di 63,06, Vietnam 62,48, Timor-Leste 60,70. Tiga negara terbawah, Kamboja (48,35), Laos (46,37), dan Myanmar (42,76), menunjukkan disparitas kawasan yang masih menganga lebar.

Bagi investor yang memantau fundamental makro Indonesia, angka-angka ini bukan laporan tahunan yang bisa dilewati begitu saja. Kualitas institusi yang rendah dan kebebasan ekonomi yang stagnan secara langsung mempengaruhi iklim usaha dan kepastian hukum. Bertahan di peringkat ketiga ASEAN mungkin terasa seperti pencapaian. Sampai kamu sadar skornya ternyata mundur.