MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Indonesia Cetak Miliarder Tercepat, tapi Kelas Men...

Ekonomi

Indonesia Cetak Miliarder Tercepat, tapi Kelas Menengahnya Makin Tipis

Knight Frank memproyeksikan Indonesia jadi negara dengan pertumbuhan orang super kaya tercepat di dunia hingga 2031. Di sisi lain, jumlah kelas menengah justru menyusut hampir 6 juta orang dalam satu dekade terakhir.

Orang Super Kaya Melejit, Tapi Kelas Menengah Indonesia Kian Menyusut

Laporan The Wealth Report 2026 yang dirilis Knight Frank menempatkan Indonesia di puncak daftar yang agaknya patut disyukuri sekaligus dicermati ulang: pertumbuhan populasi ultra-high-net-worth individuals (UHNWI) tercepat di dunia. Jumlah individu dengan kekayaan bersih di atas US$30 juta, atau sekitar Rp487 miliar dengan kurs saat ini, diproyeksikan melonjak dari 3.833 orang pada 2026 menjadi 6.966 orang pada 2031, pertumbuhan 81,7% yang melampaui Arab Saudi dan Polandia (masing-masing 63%), serta Vietnam dan Australia (masing-masing 59%).

Angka yang besar. Tapi baca berdampingan dengan data lain, gambarannya jadi tidak sesederhana itu.

Kelas menengah Indonesia, kelompok yang selama ini jadi tulang punggung konsumsi domestik dan penerimaan pajak, justru terus menyusut. Dari 47,9 juta orang pada 2024, turun menjadi 46,7 juta pada 2025. Kalau ditarik lebih panjang, jumlahnya sudah berkurang sekitar 5,6 juta orang dibandingkan 2016. Satu dekade, hampir enam juta orang yang sebelumnya masuk kategori kelas menengah kini terdegradasi.

"Kalau dua data ini dibaca berdampingan, gambaran yang muncul memang menarik. Di satu sisi, Indonesia diproyeksikan memimpin pertumbuhan orang sangat kaya. Di sisi lain, jumlah kelas menengah justru turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta pada 2025," kata Yusuf Rendy Manilet, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Ia mengingatkan bahwa dua fenomena ini tidak bisa langsung disimpulkan memiliki hubungan sebab akibat, tapi keduanya mencerminkan struktur pertumbuhan yang tidak merata.

Akar masalahnya, menurut Yusuf, terletak pada perbedaan sumber pendapatan. Pemilik modal menikmati apresiasi aset, dari saham, kepemilikan usaha, hingga properti, yang tumbuh jauh lebih kencang dibanding kenaikan upah pekerja. "Upah riil di Indonesia justru mengalami penurunan rata-rata sekitar 1,1% per tahun selama periode 2018 hingga 2024. Ketika imbal hasil modal secara konsisten lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan tenaga kerja, kesenjangan akan melebar secara alami," jelasnya. Persis seperti yang pernah dirumuskan Thomas Piketty.

Kelompok yang paling mengkhawatirkan, agaknya, bukan mereka yang sudah jatuh miskin, melainkan yang terjebak di zona abu-abu: aspiring middle class, atau calon kelas menengah. Jumlahnya membengkak jadi sekitar 142 juta orang pada 2025. Mereka sudah keluar dari kemiskinan, tapi belum punya ketahanan ekonomi yang cukup untuk benar-benar bertahan di lapisan tengah. Sebagian bahkan rumah tangga yang turun kelas.

Daya tahan konsumsi kelas menengah pun mulai retak. Indikatornya terlihat dari pinjaman daring dan pembiayaan melalui pergadaian yang melonjak sepanjang 2025. "Ini menunjukkan bahwa sebagian konsumsi tidak lagi ditopang oleh kenaikan pendapatan, tetapi oleh utang. Dalam jangka pendek konsumsi memang masih terlihat bertahan, tetapi fondasinya menjadi lebih lemah karena dibangun di atas kewajiban pembayaran di masa depan," kata Yusuf. Konsumsi masih ada, tapi pondasinya digerogoti diam-diam.

Risikonya tidak berhenti di sana. Kelas menengah yang menyusut berarti motor permintaan domestik melemah, lantaran kelompok super kaya cenderung mengalokasikan tambahan kekayaan ke investasi dan aset, bukan belanja harian. Basis pajak ikut tergerus, sementara kebutuhan belanja sosial justru meningkat untuk menopang kelompok yang semakin rentan. Pertanyaannya: berapa lama fiskal sanggup menanggung beban ini?

Yusuf juga menyinggung risiko middle income trap yang kian nyata. "Negara berpendapatan menengah tidak bisa naik kelas hanya dengan menambah jumlah miliarder. Yang dibutuhkan adalah kelas menengah yang semakin besar, produktif, dan memiliki daya beli kuat," tegasnya. Kelompok menengah, ia menambahkan, justru jadi sumber konsumsi, investasi sumber daya manusia, inovasi, dan penerimaan pajak yang menopang pertumbuhan jangka panjang.

Ekonomi Indonesia memang masih tumbuh sekitar 5%, tapi pertumbuhan itu belum cukup kuat mendorong mobilitas sosial secara luas. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin struktural, pertanyaannya bukan lagi soal apakah Indonesia bisa mencetak lebih banyak miliarder, melainkan siapa yang benar-benar merasakan pertumbuhannya.