MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Indonesia Cetak Kesepakatan Tarif dengan AS, Perda...

Ekonomi

Indonesia Cetak Kesepakatan Tarif dengan AS, Perdagangan Bilateral Melonjak 18%

Di tengah perang dagang global yang memanas, Indonesia justru berhasil mengamankan perjanjian tarif imbal balik dengan Amerika Serikat, dengan nilai perdagangan bilateral tumbuh hampir 18 persen.

Indonesia Capai Kesepakatan Tarif Imbal Balik Dengan Amerika Serikat

Perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat melonjak hampir 18 persen, angka yang agaknya akan membuat banyak ekonom mengangkat alis, mengingat situasi global yang sedang tidak kondusif untuk transaksi antarnegara.

Kabar ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Industrial Summit 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026). Indonesia, tegasnya, termasuk dalam kelompok kecil negara yang berhasil merampungkan perjanjian tarif imbal balik dengan Washington saat eskalasi perang dagang antarnegara adidaya masih berlangsung.

"Saya tidak ingin membahas soal perang dagang secara mendalam, namun menurut saya Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang mampu mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait tarif imbal balik," kata Airlangga di hadapan peserta forum.

Airlangga sendiri menyebut lonjakan ini sebagai anomali. "Hal ini merupakan suatu anomali, terlepas dari adanya perang dagang, perdagangan kita dengan AS justru meningkat hampir 18%," ucapnya. Ketika banyak negara pengekspor kelimpungan menghadapi hambatan dagang baru dari Washington, volume transaksi Indonesia-AS justru bergerak ke arah sebaliknya. Melawan arus, kalau kata veteran pasar.

Front berikutnya yang tengah digarap Jakarta adalah IEU-CEPA, perjanjian kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Uni Eropa. Ditargetkan bisa diratifikasi Parlemen Uni Eropa pada September atau akhir 2026, sebelum efektif berlaku awal tahun depan. Ada satu hambatan teknis yang cukup unik: dokumen negosiasi selama ini hanya tersedia dalam Bahasa Inggris, sementara negara-negara anggota Uni Eropa membutuhkan versi dalam bahasa resmi masing-masing. "Meskipun terdapat kendala tidak umum karena dokumen hanya disediakan dalam Bahasa Inggris, kami mencoba menjadikannya kompromi dengan negara-negara Uni Eropa agar dapat diimplementasikan pada awal tahun depan," jelas Airlangga.

25 perjanjian kerja sama ekonomi internasional sudah dikunci Indonesia, dengan 13 negosiasi lain masih berjalan aktif. Portofolio diplomasi ekonomi yang, kalau dilihat dari konteksnya, cukup padat untuk negara yang baru saja melewati serangkaian guncangan global. Pandemi. Konflik bersenjata. Tekanan suku bunga yang belum reda sepenuhnya.

"Jadi, menurut saya saat ini kita hidup di dunia global yang penuh tantangan. Kita menghadapi pandemi, perang, dan berbagai peristiwa yang terjadi secara bertubi-tubi dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun terakhir; namun, kita tetap harus mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat kita," papar Airlangga. Nada yang realistis sekaligus pragmatis. Klaim yang masih perlu dibuktikan lewat angka pertumbuhan di kuartal-kuartal berikutnya, tapi sinyal dari meja negosiasi, kalau data ini bisa dipercaya, terlihat lebih cerah dari yang banyak orang perkirakan.