SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Indonesia Borong 5 Medali di Olimpiade Fisika Inte...

Internasional

Indonesia Borong 5 Medali di Olimpiade Fisika Internasional 2026 Kolombia

Tim Indonesia sukses meraih satu emas, dua perak, dan dua perunggu di IPhO 2026 Bucaramanga, bersaing ketat melawan 381 peserta dari 93 negara.

Indonesia Borong 5 Medali Olimpiade Fisika Internasional 2026 di Kolombia

Satu emas, dua perak, dua perunggu. Pulang dari Bucaramanga dengan tangan tidak kosong.

Tim pelajar Indonesia membawa lima medali dari ajang 56th International Physics Olympiad (IPhO) 2026 yang berlangsung 4-14 Juli 2026 di Bucaramanga, Kolombia. Kompetisi tahun ini diikuti 381 peserta dari 93 negara, terdiri atas 87 negara peserta aktif dan 6 berstatus observer. Angka yang cukup untuk membuat seleksi nasionalnya saja sudah jadi ujian neraka, apalagi bicara podium.

Evan Syatia To dari SMA BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, jadi satu-satunya peraih emas kontingen Indonesia. Dua perak disumbang Ackhava Adam Malonda dari SMA Wardaya, DKI Jakarta, dan Gusti Komang Abhika Atmaja dari SMA Kesatuan Bangsa, Yogyakarta. Arrow Dunatos Pascha Kristian dari SMA Negeri Unggulan MH Thamrin, DKI Jakarta, serta Juan Richie dari SMA Kristen Immanuel, Pontianak, masing-masing pulang membawa perunggu.

Kelima siswa itu dibimbing dua leader: Budhy Kurniawan R dari Universitas Indonesia dan Getbogi Hikmawandari dari Institut Teknologi Bandung.

Format IPhO bukan untuk mereka yang setengah-setengah. Dua babak ujian, masing-masing lima jam. Tes eksperimen digelar 6 Juli, menguji pemahaman soal gas ideal, tekanan uap, dan konduksi panas, dengan skor maksimum 20 poin. Dua hari berselang giliran tes teori, skor maksimum 30 poin, mencakup tiga tema: gerbang hidrostatik dan fotodisosiasi ozon, kompor surya dengan refleksi berganda, serta termodinamika paramagnetik di suhu mendekati nol mutlak. Kalau ada yang mengira fisika olimpiade itu soal hafalan rumus, topik-topik ini akan dengan senang hati mengoreksi anggapan itu.

Proses moderasi berlangsung intensif pada 10 Juli. Malam pengumuman medali digelar 11 Juli di Neomundo Convention Center Bucaramanga. Tim Indonesia bertolak keesokan harinya lewat rute panjang: Bucaramanga, Bogota, Panama City, Istanbul, baru Jakarta.

Dukungan datang dari Pusat Prestasi Nasional, Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen, KBRI Bogota, serta Fakultas MIPA UI dan ITB. Mesin pembinaan yang, agaknya, mulai menemukan ritme yang tepat.

Lima peserta. Lima medali. Conversion rate sempurna, dan itu bukan kebetulan.