Indeks harga pangan global yang disusun Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat penurunan tipis pada Juni 2026, bertengger di level 130,3 poin dari 130,8 poin pada Mei. Ini koreksi kedua berturut-turut setelah indeks sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun pada April lalu, ketika konflik Iran mengangkat harga minyak nabati dan memompa premi risiko di hampir seluruh kelas aset komoditas pertanian.
Pemicunya jelas. Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran membuka kembali jalur pengiriman melalui Selat Hormuz, arteri perdagangan yang sebelumnya membayangi rantai pasok global mulai dari biji-bijian hingga pupuk dan solar pertanian. Begitu kekhawatiran soal blokade mereda di awal Juni, premi risiko perang itu pun menguap cepat.
Penurunan terbesar datang dari kelompok sereal, minus 3,5 persen secara bulanan. Harga gandum tergerus oleh panen yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan, ditambah prospek pasokan dari kawasan Laut Hitam yang tetap solid. Jagung ikut melemah seiring proyeksi produksi Amerika Selatan yang melimpah dan harga minyak mentah yang juga melunak. Gula amblas 5,7 persen karena Brasil mengalihkan kapasitas pabrik dari etanol ke gula setelah harga etanol melemah. Produk susu juga tergerus 1,5 persen seiring meningkatnya pasokan.
Tapi tidak semua ikut turun. Beras justru naik 3,2 persen karena permintaan jenis Indica di pasar Asia menguat. Minyak nabati terkerek 3,8 persen, ditopang minyak sawit dan rapeseed yang permintaan biodiesel-nya sedang tinggi. Daging bahkan mencetak rekor baru, eh, lebih tepatnya: indeksnya naik 0,4 persen ke level tertinggi sepanjang sejarah, terutama ditarik harga unggas.
Indeks Juni masih 1,7 persen lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilainya juga masih 18,7 persen di bawah rekor absolut Maret 2022 pascainvasi Rusia ke Ukraina. Bukan krisis, tapi tekanan tetap ada.
Soal produksi, FAO memproyeksikan output sereal global 2026 di angka 2,983 miliar ton, nyaris tidak bergerak dari estimasi bulan lalu. Memang 1,9 persen lebih rendah dari rekor 2025, tapi angka ini masih akan menjadi produksi terbesar kedua dalam sejarah. Cukup menenangkan, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya.
Yang belum masuk angka justru yang patut dicermati: musim panas. Gelombang panas yang memecahkan rekor baru saja melanda Eropa, tepat saat belahan bumi utara memasuki fase panen. Luas lahan tanam yang menyusut dan potensi penurunan yield mulai masuk radar analis. Pertanyaannya, berapa lama tren meredanya harga ini bertahan?
El Niño sedang berkembang. Pola iklim siklikal ini berpotensi memukul produksi gula India dan Thailand sekaligus mengganggu hasil panen di sejumlah negara produsen utama. Gencatan senjata Iran mungkin sudah meredakan satu sumber risiko, tapi alam agaknya bersiap jadi pengganggu berikutnya.