Nelayan di Gopalganj, Bihar, belum pernah melihat ini seumur hidup mereka. Ikan-ikan seberat 40 kilogram lebih, berwujud asing, hampir semuanya mati sesaat setelah diangkat dari air, tiba-tiba memenuhi jaring mereka setelah banjir bandang dari Nepal mengalir deras ke hilir melalui sistem Sungai Trishuli, Gandak, dan Kosi.
Otoritas Bihar bergerak cepat. Larangan resmi dirilis, melarang warga membeli, menjual, dan mengonsumsi ikan yang tidak dikenal atau terlihat tidak biasa. Laporan kesakitan sudah mulai masuk, beberapa warga yang nekat memakan hasil tangkapan itu jatuh sakit, cukup untuk membuat pemerintah setempat tidak bisa tinggal diam.
Longsornya gletser di Nepal memicu banjir yang bukan hanya mengangkut air. Isi sungai-sungai di hulu ikut tersapu: ikan yang semula hidup tenang di kolam, waduk, dan sungai berarus deras Himalaya terbawa ratusan kilometer hingga mendarat di perairan Bihar. Di sepanjang perjalanan itu, mereka bersentuhan dengan lumpur, limbah domestik, bangkai hewan, puing-puing proyek pembangkit listrik yang hancur, hingga tabung gas yang ikut terseret arus.
Angka tangkapannya tidak main-main. Vinod Nishad, nelayan di Saharsa, melaporkan rata-rata bobot hasil tangkapan belakangan ini berkisar 27 hingga 38 kilogram, ada yang menyentuh 40 hingga 45 kilogram. Chhatu Sahani, nelayan di dermaga Mangalpur, Gopalganj, bilang hal serupa: "Kami sangat jarang melihat ikan seperti ini dalam tangkapan normal kami. Sebagian besar mati setelah ditangkap."
Satu kandidat spesies sudah mengerucut. Sameer Kumar Sinha, Direktur Wildlife Trust of India, menyebut sebagian besar spesies yang masuk ke Sungai Gandak kemungkinan Bagarius bagarius, dikenal sebagai goonch catfish atau lele goonch. Penghuni asli sungai berarus deras Himalaya ini berstatus terancam punah menurut IUCN. Tubuhnya bisa berukuran besar, dan begitu mati, busuk sangat cepat.
Pertanyaannya, kenapa tidak cukup sekadar masak sampai matang? Departemen Peternakan, Perikanan, dan Sumber Daya Hewan Bihar menegaskan bahwa ikan yang terkontaminasi tidak selalu terlihat berbeda dari yang sehat. Dr. Saiprasad Girish Lad, konsultan gastroenterologi di Wockhardt Hospitals Mumbai Central, menjelaskan ikan yang terbawa banjir bisa membawa mikroorganisme yang sama sekali tidak ada di habitat normalnya. "Kekhawatirannya bukan pada ikan sebagai makanan, tetapi pada lingkungan yang telah terpapar ikan tersebut," katanya. Beberapa kontaminan kimia, tambahnya, tidak larut oleh panas.
Ancaman kesehatan di Bihar agaknya lebih pelik dari sekadar soal ikan. Lahan pertanian yang terendam, infrastruktur air minum yang bersinggungan dengan air banjir terkontaminasi, kadar arsenik dan zat besi di tanah setempat yang sebelumnya sudah melampaui batas aman, kombinasi ini yang bikin para ahli kesehatan waswas. Genangan sisa banjir juga diprediksi jadi sarang nyamuk, membuka jalan bagi demam berdarah dan malaria. Kolera, tifus, diare, hepatitis A dan E semuanya masuk daftar ancaman yang disebut otoritas kesehatan setempat.
Wilayah paling terdampak: Champaran Barat, Champaran Timur, Gopalganj, Bagaha, dan Saran. Di semua titik itu, imbauan pemerintah kini seragam, jangan sentuh ikan yang tidak bisa diidentifikasi, laporkan ke petugas perikanan setempat jika menemukannya, dan untuk sementara, lupakan dulu soal untung dari tangkapan jumbo yang tiba-tiba datang sendiri.