MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Terkoreksi 0,35% Sepekan, Kapitalisasi BEI Su...

Finansial

IHSG Terkoreksi 0,35% Sepekan, Kapitalisasi BEI Susut ke Rp10.287 Triliun

IHSG menutup pekan pertama Juli 2026 di zona merah tipis dengan koreksi 0,35%, sementara aktivitas perdagangan anjlok drastis dan net sell asing secara tahunan tembus Rp74,42 triliun.

IHSG Melemah Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Jadi Rp 10.287 Triliun

Pekan pertama Juli 2026 bukan pembuka yang meyakinkan bagi pasar modal Indonesia. IHSG terkoreksi 0,35% sepanjang 29 Juni hingga 3 Juli 2026 dan parkir di level 5.875,780, sementara kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia ikut menyusut 0,14% menjadi Rp10.287 triliun dari Rp10.302 triliun sepekan sebelumnya.

Angka koreksinya memang kecil. Yang lebih mengkhawatirkan justru bukan indeksnya, melainkan aktivitas perdagangannya. Rata-rata nilai transaksi harian amblas 35,90% menjadi Rp11,27 triliun dari Rp17,58 triliun pada pekan sebelumnya. Volume harian ikut tergerus 30,35% ke 17,54 miliar lembar saham. Frekuensi transaksi pun turun 16,71% menjadi 1,44 juta kali. Tiga indikator sekaligus melemah, jujur saja, cermin pasar yang sedang tidak bergairah.

"Kapitalisasi pasar BEI juga mengalami perubahan sebesar 0,14 persen menjadi Rp10.287 triliun dari Rp10.302 triliun pada penutupan pekan lalu," kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/7/2026).

Satu sisi cerah datang di penghujung sesi Jumat. Investor asing membukukan net buy tipis Rp6,08 miliar, beriringan dengan penguatan indeks 2,28% atau 131,224 poin di hari terakhir perdagangan pekan ini. Sebanyak 494 saham naik, 154 melemah, 139 stagnan. Rentang pergerakan cukup lebar: 5.805,922 hingga 5.899,302.

Namun beli asing di akhir pekan itu agaknya belum cukup untuk membaca ulang tren yang lebih besar. "Investor asing hari ini mencatatkan nilai beli bersih Rp6,08 miliar dan sepanjang tahun 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp74,42 triliun," ungkap Kautsar. Secara year-to-date hingga Juli 2026, akumulasi net sell asing sudah mencapai Rp74,42 triliun. Belum ada sinyal pembalikan yang benar-benar meyakinkan.

Dalam konteks regional, koreksi yang relatif terbatas ini bisa jadi bukan hasil yang buruk. Beberapa bursa tetangga dihajar tekanan jauh lebih dalam pada periode yang sama, sehingga posisi Indonesia masih terlihat lebih tahan banting secara komparatif. Tapi itu bukan alasan untuk berpuas diri.

Kombinasi volume yang kering dan asing yang belum sepenuhnya kembali biasanya jadi petunjuk awal ke mana angin bertiup di pekan berikutnya. Pertanyaannya: apakah Jumat kemarin sekadar dead cat bounce, atau awal dari sesuatu yang lebih solid?