Sesi pagi hingga siang ini berat. IHSG menutup Sesi I di level 6.807, turun 98,49 poin atau 1,43% dari penutupan sebelumnya, dihantam sentimen negatif yang datang bersamaan dari dalam dan luar negeri.
Rupiah turut tergerus. Nilai tukar berada di Rp17.510 per dolar AS pada pukul 13:00 WIB, melemah 0,56% secara intraday. Indeks amblas, mata uang goyah. Bukan kombinasi yang nyaman.
Sepanjang sesi, IHSG bergerak liar dalam rentang 6.802 hingga 6.977. Lebar, untuk ukuran setengah hari. Pelaku pasar jelas kesulitan mencari pegangan: 456 saham berakhir di zona merah, hanya 192 yang mampu menguat, sisanya 166 stagnan.
Dua katalis utama yang menekan: data penjualan ritel April yang diramal turun, dan eskalasi konflik Timur Tengah yang kembali memanas. Keduanya bukan sentimen baru, tapi kombinasinya di hari yang sama agaknya terlalu berat untuk diabaikan.
Nilai transaksi mencapai Rp7,5 triliun dari 18,89 miliar saham yang berpindah tangan, dengan frekuensi 1,49 juta kali. Angka yang tidak main-main, eh, koreksi: angka yang cukup solid justru saat indeks terkapar, menandakan aksi jual berlangsung agresif bukan sekadar panik sesaat.
Indeks LQ45 juga tak luput, terkoreksi 5,52 poin atau 0,83% ke level 663,1. Saham-saham bluechip ikut dihajar, meski tidak sedalam indeks komposit secara persentase.
Data penjualan ritel yang lesu jadi sinyal kurang sedap bagi ekonomi domestik. Konsumsi rumah tangga selama ini merupakan salah satu penyangga pertumbuhan Indonesia, dan kalau angkanya mulai goyah, pasar akan mempertanyakan kekuatan fundamental yang jadi narasi utama. Pertanyaannya, berapa lama kepercayaan itu bisa bertahan?
Apakah sesi II bisa membalik keadaan? Atau tekanan ini berlanjut sampai bel penutupan berbunyi.