SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Sesi I Ditutup Hijau, Saham Komoditas Jadi Mo...

Ekonomi

IHSG Sesi I Ditutup Hijau, Saham Komoditas Jadi Motor Penguatan

IHSG rebound ke level 6.113 pada sesi pertama Jumat (22/5), ditopang lonjakan sektor barang baku 3,78 persen dan reli saham-saham komoditas, meski rupiah masih tertekan ke Rp17.714 per dolar AS.

IHSG Rebound ke 6.113 pada Sesi I Jumat (22/5), MDKA dan HRTA Melonjak

Sempat dibuka melemah, IHSG akhirnya berbalik arah dan menutup sesi pertama Jumat (22/5/2026) di zona hijau. Indeks naik 18,50 poin atau 0,31 persen ke level 6.113,44, dengan nilai transaksi Rp10,17 triliun, volume 19,95 miliar saham, dan frekuensi sekitar 1,14 juta kali.

Sektor barang baku menjadi bintang sesi ini. Melesat 3,78 persen, didorong reli BRPT, INKP, INTP, dan SMGR. Pasar agaknya mulai kembali melirik emiten berbasis bahan baku setelah sektor ini tertekan cukup lama. Sektor energi ikut terkerek 2,31 persen, dengan BUMI dan DEWA bertahan di jalur positif.

Dari kelompok LQ45, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) jadi juara sesi pertama. Sahamnya melesat 16,97 persen ke Rp2.550, angka yang cukup bikin dahi berkerut bagi yang sudah lama nyangkut di posisi ini. Di belakangnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) naik 7,04 persen ke Rp2.280, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat 5,14 persen ke Rp4.910.

Tidak semua menikmati pesta. Properti dan real estat terkoreksi 0,71 persen, teknologi amblas 0,64 persen, keuangan melemah 0,47 persen. Di LQ45, tekanan paling dalam dialami PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang rontok 8,41 persen ke Rp490. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Astra International Tbk (ASII) juga masuk daftar top losers, masing-masing tergerus 5,26 persen ke Rp880 dan 4,46 persen ke Rp5.350. Total 332 saham menguat, 350 melemah, 135 stagnan. Indeks memang hijau, tapi pasar sejatinya masih terpecah.

Sentimen positif datang dari luar. Nikkei 225 melesat 2,82 persen memimpin reli Asia, diikuti Hang Seng yang naik 1,19 persen dan Shanghai Composite menguat 0,64 persen. KOSPI Korea Selatan dan ASX200 Australia masing-masing naik 0,59 persen dan 0,34 persen. Katalisnya: harapan atas perundingan damai AS-Iran. Menlu Marco Rubio menyebut sudah ada "beberapa tanda baik" dalam negosiasi tersebut. Klaim yang masih perlu dibuktikan, tapi cukup untuk memberi nafas pada pasar regional.

Kepala Riset Pepperstone Chris Weston menilai pelaku pasar mulai merasakan arus berita bergerak menuju sesuatu yang lebih konkret, yang berpotensi mendongkrak keyakinan investor global. Mitch Reznick dari Federated Hermes mengingatkan bahwa hubungan antara harga minyak dan suku bunga global kini kian erat, karena eskalasi konflik geopolitik bisa memperparah tekanan inflasi.

Masalahnya belum selesai. Isu cadangan uranium Iran dan kendali jalur perairan strategis belum ketemu titik temu. Risiko gangguan pasokan energi global masih menggantung. Yang lebih menarik, pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed justru menaikkan suku bunga di akhir tahun, berbalik dari ekspektasi dua kali pemangkasan. Bak pedang bermata dua bagi aset berisiko.

Rupiah, entah kebetulan atau tidak, tetap lesu. Mata uang garuda melemah 0,27 persen ke Rp17.714 per dolar AS, senada dengan baht Thailand dan dolar Australia yang juga terkoreksi. Yuan China jadi pengecualian tipis, menguat 0,05 persen. Selama tekanan terhadap rupiah belum mereda, investor dengan eksposur impor besar sebaiknya tidak memperlakukan pergerakan kurs ini sebagai sekadar catatan pinggir.