IHSG benar-benar dihajar habis sepanjang Rabu (13/5/2026). Indeks ditutup amblas 1,98% ke posisi 6.723, setelah sempat menyentuh titik terendah 6.705 di sesi perdagangan. Bukan sekadar koreksi teknikal biasa.
Dua faktor jadi pemicunya: rebalancing indeks MSCI dan data inflasi Amerika Serikat yang datang lebih panas dari perkiraan. Keduanya, secara bersamaan, memberi tekanan yang sulit dilawan.
Dari sisi MSCI, pengumuman review kuartalan Mei 2026 membawa kabar kurang sedap buat pasar domestik. Sebanyak 6 saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index, sementara 13 saham lainnya tersingkir dari MSCI Small Cap Index. Konsekuensinya langsung terasa: dana asing berbasis indeks, termasuk ETF yang tracking MSCI, wajib melakukan penyesuaian portofolio. Tekanan jual pun tidak terhindarkan.
"Terdapat 6 saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index serta 13 saham dari MSCI Small Cap Index yang berdampak pada tekanan jual atas rebalancing fund asing serta ETF yang berbasis MSCI," papar Panin Sekuritas dalam risetnya.
BBRI dan AMMN jadi korban paling nyata. Keduanya tercatat sebagai pemberat terbesar indeks hari ini, mencerminkan betapa besarnya eksposur fund asing terhadap dua emiten tersebut.
Volume perdagangan memperlihatkan betapa deras arus jualnya. Nilai transaksi harian menyentuh Rp19,79 triliun dari 38,94 miliar saham yang berpindah tangan, frekuensi 2,29 juta kali. Masif.
Dari luar negeri, inflasi AS bulan April dilaporkan naik dari 3,3% menjadi 3,8% secara tahunan, melampaui konsensus pasar. Pilarmas Investindo Sekuritas menilai data ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama dari yang diharapkan. Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, agaknya itu sudah cukup untuk memicu sikap defensif.
Ketegangan geopolitik Timur Tengah turut memanaskan suasana. Harga minyak dunia kembali bergolak, menambah kekhawatiran inflasi global yang belum juga reda.
Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini bertahan? Pelaku pasar masih menunggu hasil pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping yang dijadwalkan 14-15 Mei di Beijing. Fokus utama memang soal perdagangan dan kelanjutan gencatan tarif AS-China, tapi Pilarmas mengingatkan pasar untuk mewaspadai pembahasan isu Iran dan ketegangan geopolitik lainnya yang bisa ikut memperkeruh sentimen. Bisa jadi pertemuan itu yang menentukan arah pasar pekan depan.
Rupiah yang masih tertekan terhadap dolar AS ikut memperburuk mood investor. Depresiasi nilai tukar dianggap berisiko menambah beban subsidi energi dan memperlebar defisit fiskal.
Satu catatan dari Pilarmas: mereka merekomendasikan saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) untuk perdagangan sesi II, dengan kisaran support-resistance 4.170-4.710. Entah cukup menarik minat atau tidak, melihat kondisi pasar yang sedang seperti ini.