Empat hari berturut-turut hijau. Lalu Jumat datang.
Itulah drama IHSG sepanjang pekan 4-8 Mei 2026. Indeks memang ditutup menguat 0,18% ke level 9.696, tapi angka itu terasa bagai kemenangan poin akhir setelah ketinggalan sejak babak pertama. Koreksi 2,86% pada Jumat (8/5) cukup untuk membuat pelaku pasar kembali mengernyitkan dahi.
Satu minggu reli, agaknya, belum membuktikan apa-apa.
Konteksnya perlu diingat. April 2026 saja IHSG sudah tergerus 1,30% secara bulanan. Dihitung dari awal tahun, indeks sudah amblas 19,40% year-to-date. Bukan angka kecil, oh tunggu, kita buang em dash itu. Bukan angka kecil. Ini salah satu koreksi YtD terdalam yang menghantam bursa domestik dalam beberapa tahun terakhir, dan empat sesi penguatan dalam sepekan jelas belum cukup untuk mengklaim bahwa tren pemulihan sudah terbentuk.
Kalangan analis menilai sinyal rebound yang muncul di pekan pertama Mei masih terlalu dini dijadikan pegangan. Bayangan dari sisi global maupun domestik, kata mereka, belum benar-benar surut. Sewaktu-waktu bisa jadi pemicu koreksi susulan, terutama bagi investor yang masuk terburu-buru hanya karena melihat empat lilin hijau di chart. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum pasar kembali dihajar sentimen negatif?
Bullish atau bearish untuk sisa 2026? Dua skenario itu sama-sama punya argumen yang layak diperdebatkan. Yang satu berpegang pada valuasi yang kian menarik setelah koreksi dalam. Yang lain menunjuk pada ketidakpastian eksternal yang belum mereda dan tekanan rupiah yang masih membayangi pasar, sambil mengingatkan bahwa "murah" bisa semakin murah kalau sentimen global memburuk lebih jauh.
Buat investor ritel, pertanyaannya sederhana: ini rebound sungguhan, atau sekadar dead cat bounce sebelum IHSG mencari dasar baru?