Jumat lalu IHSG dihajar koreksi cukup dalam, amblas 2,86% atau 204,92 poin ke posisi 6.969,39. Ironisnya, penurunan itu terjadi tepat setelah indeks mencatatkan reli solid sejak awal pekan.
Senin ini, agaknya ceritanya belum berakhir.
Technical Analyst Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mewanti-wanti bahwa momentum bearish masih menghantui pergerakan IHSG. Indikator MACD, kata dia, memberikan sinyal negatif yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Level support yang perlu dipelototi ketat ada di kisaran 6.925-6.950. Area ini jadi penentu: apakah indeks mampu memantul, atau justru amblas lebih jauh membentuk gelombang koreksi berikutnya. "Level support IHSG berada di 6.924, 6.838, 6.727 dan 6.587, sementara level resistennya di 7.275, 7.403 dan 7.497. Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish," kata Ivan dalam risetnya, Senin (11/5/2026).
Bukan angka kecil. Selisih antara posisi sekarang dan support terbawah bisa menyentuh ratusan poin.
Namun tidak semua analis seragam pesimistis. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama melihat secercah harapan dari indikator RSI yang mulai memasuki zona oversold, sinyal bullish divergence istilah teknikalnya. Volume perdagangan yang mulai menguat turut mendukung kemungkinan rebound jangka pendek. Stochastics KD masih memberikan sinyal negatif, memang. Dua kekuatan yang saling tarik-menarik.
Dari luar negeri, tekanannya juga tidak ringan. Konflik AS-Iran masih membayangi, dengan harga minyak Brent bertahan keras di atas US$ 100 per barel, memicu risk-off sentiment di pasar-pasar berkembang, Indonesia tidak terkecuali. Tapi ada titik terang: Wall Street Journal melaporkan kedua negara sedang menyusun nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin yang mencakup program nuklir Iran, ketegangan di Selat Hormuz, hingga penanganan stok uranium yang sudah diperkaya. Negosiasi dijadwalkan berlanjut pekan ini. Kalau kesepakatan benar-benar terbentuk, sentimen global bisa berbalik cukup cepat.
Dari dalam negeri, Rupiah masih tertekan di Rp 17.365 per dolar AS, dihantam capital outflow asing dan penurunan cadangan devisa yang menyusut ke US$ 146,2 miliar per April 2026. Belum lagi wacana revisi royalti tambang untuk komoditas seperti emas dan tembaga yang langsung memukul sentimen emiten sektor komoditas. Investor khawatir margin laba bakal tergerus. Cukup untuk bikin pasar gelisah.
Analis tetap memberikan pilihan saham bagi yang mau selektif masuk.
Ivan dari Binaartha merekomendasikan PT Astra International Tbk (ASII) dengan target harga terdekat di 6.250, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) di 845, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) di 675, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) di 1.680, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) di 1.995.
Nafan dari Mirae Asset juga menyebut ASII dan MEDC sebagai pilihan, ditambah PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Tbk (ULTJ) yang lebih defensif. Menarik kalau volatilitas memang meningkat.
Dua analis, dua pendekatan, tapi ASII dan MEDC muncul di keduanya. Entah kebetulan atau tidak, konsensus tipis seperti ini biasanya punya alasan.