Setelah berbulan-bulan tertekan, IHSG akhirnya menarik napas panjang di Juli 2026. Indeks ditutup di level 6.236, tumbuh 10,51 persen dari Juni, dengan kapitalisasi pasar yang ikut mengembang ke Rp10.923 triliun atau naik 10,36 persen secara bulanan. Tapi baca dulu angka ini dengan kepala dingin: secara year-to-date, indeks masih amblas 16,68 persen dan kapitalisasi pasar tergerus 19,04 persen dari awal tahun.
Yang menggerakkan indeks? Jawabnya tidak mengejutkan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tampil sebagai lokomotif utama, menyumbang +68,52 poin terhadap pergerakan IHSG sepanjang bulan. Saham ini menguat 13,96 persen dalam sebulan, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp771,92 triliun. Menyusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di posisi kedua, kontribusi +45,27 poin dan harga naik 11,36 persen, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) di urutan ketiga dengan lonjakan harga 32,26 persen dan kontribusi indeks +42,15 poin.
Empat big banks mendominasi, tapi itu bukan satu-satunya cerita. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melonjak 43,58 persen dan menyumbang +32,53 poin. PT VKtr Teknologi Mobiliti Tbk (VKTR) melesat 55,98 persen dengan kontribusi +16,13 poin. Yang paling bikin kepala analis menoleh dua kali: PT Dewata Freya International Tbk (DEWA) dengan reli 61,97 persen, kontribusi +8,14 poin. Masif, untuk ukuran saham selapis itu.
Di luar saham penggerak indeks, ada drama tersendiri di deretan top gainer. PT Alaksa Industrindo Tbk (ALKA) memimpin dengan kenaikan 257,29 persen, dari Rp480 menjadi Rp1.715 per lembar. Tiga kali lipat lebih dalam sebulan. Posisi kedua ditempati PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) yang melonjak 241,07 persen dari Rp56 ke Rp191, diikuti PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) dengan reli 211,88 persen dari Rp202 ke Rp630.
Kenaikan-kenaikan seperti ini, jujur saja, bukan sepenuhnya cerita fundamental. Saham dengan harga gocap yang naik ratusan persen dalam sebulan selalu layak dicermati lebih dalam, bukan sekadar diacungi jempol. Entah kebetulan atau tidak, polanya cukup familiar buat yang pernah mengamati pasar cukup lama.
Dua emiten IPO Juli langsung menuai perhatian. PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH) berhasil masuk jajaran 20 top gainer begitu melantai di bursa. Sebaliknya, PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang juga baru IPO bulan yang sama langsung nongkrong di urutan keempat top loser, dengan penurunan 30 persen dari Rp900 ke Rp630. Nasib emiten baru memang bisa jadi dua sisi koin yang sama.
Sepanjang Juli, enam emiten baru resmi mencatatkan saham di BEI: JELI, PRDL, BACH, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS). Total emiten di bursa kini menjadi 962.
Di deretan top loser, PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) memimpin dengan penurunan 41,61 persen, dari Rp286 ke Rp167. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) terkoreksi 33,76 persen, disusul PT MD Entertainment Tbk (FILM) yang ambles 31,83 persen dari Rp1.555 ke Rp1.060. FILM agaknya harus berjuang lebih keras dari sekadar cerita di layar lebar.
Total nilai transaksi sepanjang Juli tercatat Rp329,20 triliun, dengan 655,59 miliar lembar saham berpindah tangan dalam 23 hari bursa. Turun 25,97 persen dari Juni. Meski begitu, kalau dibanding posisi awal tahun, nilainya masih naik tipis 2,05 persen.
Rebound Juli memang terasa melegakan setelah tekanan panjang. Pertanyaannya sederhana: apakah ini pembalikan arah yang sesungguhnya, atau sekadar technical rebound sebelum tekanan berikutnya datang? Dengan YTD yang masih minus 16,68 persen, jawaban itu belum tersedia.