SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Ancam Uji 5.500, Ini Saham-Saham yang Layak D...

Finansial

IHSG Ancam Uji 5.500, Ini Saham-Saham yang Layak Dipantau

Setelah IHSG amblas 3,05% ke 5.643 pada akhir Semester I-2026, analis memperingatkan indeks masih rawan tergelincir menuju 5.500. Di tengah outflow asing Rp70 triliun YTD dan rupiah di 17.953, begini peta saham pilihan untuk Rabu ini.

Simak Rekomendasi Teknikal Saham LSIP, ERAA, CTRA untuk Rabu (1/7)

Semester I-2026 ditutup dengan catatan yang tidak mengenakkan. IHSG ambles 3,05% ke 5.643,19 pada Selasa (30/6), melengkapi pelemahan 34,7% secara year-to-date, angka yang cukup untuk membuat pelaku pasar veteran pun mengernyitkan dahi.

Koreksi ini agaknya belum selesai. Phintraco Sekuritas memperingatkan IHSG berpotensi menguji level 5.500 dalam perdagangan Kamis (1/7/2026), dengan rentang pergerakan antara support 5.500 dan resistance 5.800. Secara teknikal, histogram MACD positif mulai mengecil dan sinyal death cross membayangi, sementara stochastic RSI masih melanjutkan pergerakan ke bawah dari area pivot.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menyebut tekanan yang terjadi bukan sekadar koreksi sesaat. "IHSG tercatat melemah 34,7% secara year to date dengan total net sell investor asing lebih dari Rp70 triliun," ujar Alrich. Dalam sepekan terakhir saja, arus keluar dana asing tercatat sekitar Rp3,2 triliun. Deras.

Seluruh sektor kompak melemah pada sesi Selasa, dengan basic materials jadi yang paling dihajar, amblas 5,54%. Rupiah turut menambah beban, bertengger di Rp17.953 per dolar AS.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai tren IHSG memang masih downtrend. "IHSG masih berada di fase downtrend, dan saat ini pergerakannya masih dipengaruhi oleh outflow asing yang cukup besar," katanya. "Investor masih menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat dan data inflasi Indonesia, serta terdapat kekhawatiran terhadap kajian lembaga pemeringkat asing terhadap Indonesia," imbuh Herditya. Untuk perdagangan hari ini, ia memetakan support IHSG di 5.619 dan resistance di 5.722, dengan rekomendasi AADI di kisaran Rp8.325-Rp8.850, DSSA di Rp910-Rp1.100, serta RAJA pada level Rp4.340-Rp4.750.

Sentimen hari ini juga diwarnai rilis data inflasi Juni 2026. Konsensus memperkirakan inflasi naik ke 0,29% MoM dan 3,2% YoY, dari 0,28% MoM dan 3,08% YoY di Mei lalu, bisa jadi seiring berlakunya kenaikan harga BBM Pertamax sejak 10 Juni. Surplus neraca perdagangan Mei pun akan dirilis hari ini, dengan konsensus di angka US$1,1 miliar, jauh membaik dari US$0,09 miliar di April.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk paruh kedua 2026. Paket ini mencakup diskon tarif kereta api dan kapal Pelni 30%, pembebasan tarif kepelabuhan penyeberangan, bantuan pangan bagi 33,24 juta penerima manfaat, fasilitas bea masuk 0% untuk impor LPG industri petrokimia dan bahan baku plastik, hingga tarif khusus PPh final 1,5% bagi para penulis. Bagi sebagian analis, ini datang di waktu yang pas, meski efeknya ke pasar tidak akan terasa instan.

Di level saham individual, Ivan Rosanova dari Binaartha Sekuritas merekomendasikan buy on weakness untuk PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), yang Selasa kemarin tergerus 3,79% ke Rp1.270. Berdasarkan Fibonacci Retracement, selama LSIP bertahan di atas support kritis Rp1.135, peluang rebound masih terbuka dengan target resistance di Rp1.315 dan Rp1.450.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas melihat pola serupa pada PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), yang ditutup di Rp350. Indikator MACD berpotensi deathcross dan RSI bergerak turun, tapi ERAA akan menguji support di rentang Rp340-Rp348, persis di area fibo retracement 61,8%. Audi merekomendasikan buy on weakness dengan alokasi maksimal 10%.

Satu lagi yang menarik: PT Ciputra Development Tbk (CTRA), ditutup Rp555 dengan volume meningkat dan pola three black crows terbentuk. Achmad Yaki dari BCA Sekuritas menyarankan entry buy jika CTRA mampu bertahan di kisaran Rp530-Rp535, dengan support di Rp490 dan resistance di Rp625. Phintraco Sekuritas menambahkan WIFI, CPIN, CMRY, PGEO, dan DATA dalam daftar pantauan hari ini.

Kondisi teknikal masih rapuh, sentimen global belum kondusif. Buy on weakness bukan berarti asal beli di harga murah, ukuran posisi tetap kunci.