IHSG ditutup di 6.723,32 pada perdagangan Rabu (13/5/2026), rontok 135,57 poin atau hampir 2% dari sesi sebelumnya. Bukan penurunan biasa.
Pemicunya sudah bisa ditebak: rebalancing indeks MSCI. Dalam review kuartalan Mei 2026, MSCI Global Standard Index menendang enam saham Indonesia sekaligus, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. AMRT memang diselamatkan masuk ke MSCI Small Cap Index, tapi itu tidak banyak menolong sentimen. Adapun 13 saham lagi juga dicoret dari MSCI Small Cap Index, termasuk ANTM, AALI, BSDE, dan SIDO. Eksodus yang cukup panjang.
Dampaknya ke pasar terasa. Dari 959 saham yang aktif diperdagangkan, 411 saham melemah berbanding 280 yang menguat. Nilai transaksi masih ramai di Rp10,26 triliun dengan volume 24,74 miliar saham, tapi angka mingguan bicara lebih keras: kapitalisasi pasar Bursa amblas 4,68% dalam sepekan menjadi Rp11.825 triliun dari Rp12.406 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian pekan ini pun anjlok 18,78% menjadi Rp18,82 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mencoba meredam kekhawatiran. "Alhamdulillah per hari ini rasanya tingkat penurunannya tidak signifikan jadi ada di angka sekitar 1 persen sampai 1,5 persen tadi di posisi terakhir," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026). Framing yang agaknya tidak sepenuhnya memuaskan investor yang posisinya sudah nyangkut.
Namun, bagi yang jeli, hari ini juga menyajikan tontonan menarik.
Saham PT Mitra Energi Persada Tbk (KOPI) memimpin top gainers dengan lonjakan 24,56% ke level 284. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) menyusul dengan kenaikan 22,70%, dan kontribusinya terhadap indeks tercatat 1,38 poin. Di bawahnya ada PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) yang menguat 18,12%, lalu NEST naik 18%, FIRE 16,03%, dan ICON 15,27%. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ikut pesta dengan lonjakan 12,18%.
Di sektor properti, ceritanya lebih beragam. PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID) jadi anomali paling mencolok: ditutup naik 5,56% ke Rp114, tapi di sesi pertama sempat menyentuh Rp136, setara kenaikan 25% dari penutupan hari sebelumnya di Rp108. Bukan main. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) juga naik tipis 0,63% ke Rp320. Sisanya terseret: CTRA turun ke Rp685, BSDE anjlok ke Rp735, PWON melemah ke Rp310.
Saham-saham penopang indeks hari ini punya cerita tersendiri. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) tampil sebagai top leader dengan kontribusi 5,03 poin setelah menguat 4,46%. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyumbang 3 poin. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melonjak 8,29% dengan kontribusi 2,17 poin. Dari sektor telekomunikasi, PT Indosat Tbk (ISAT) menguat 5,8% dan menahan indeks 1,54 poin. Tanpa saham-saham ini, pelemahan IHSG bisa jauh lebih dalam dari 1,98%.
Secara kumulatif sepekan, IHSG sudah tergerus 3,53% dari posisi 6.936,39. Bagi investor ritel yang masuk di level 7.000-an awal bulan ini, angka itu bukan sekadar statistik. Pertanyaannya: sampai mana koreksi ini akan berlanjut sebelum ada katalis yang cukup kuat untuk membalik arah?