Pekan terakhir Juni 2026 ditutup pahit. IHSG ambruk 1,72% atau 102,9 poin ke level 5.896,13 pada perdagangan Jumat (26/6), melanjutkan pelemahan yang sudah merembet sepanjang minggu. Secara mingguan, indeks tergerus 4,55%, salah satu koreksi paling dalam dalam beberapa bulan terakhir.
Semua sektor kompak memerah, tanpa terkecuali. Barang baku paling babak belur dengan pelemahan 5,00%, disusul sektor perindustrian yang turun 4,23%. Barang konsumer non-primer ikut tertekan 2,96%, sementara energi, teknologi, transportasi, dan infrastruktur masing-masing terkoreksi di kisaran 2,4% hingga 2,6%. Total 562 saham tercatat melemah. Hanya 123 yang bertahan hijau, sisanya 129 saham stagnan.
Investor asing kembali ke posisi net sell setelah sehari sebelumnya sempat membukukan net buy 432,92 juta lembar. Volume net sell asing pada Jumat mencapai 576,41 juta lembar, dengan nilai transaksi bersih minus Rp537,25 miliar di seluruh pasar. Foreign buy turun dari 5,29 miliar menjadi 3,81 miliar lembar, sementara foreign sell menyusut dari 4,85 miliar ke 4,39 miliar lembar.
Namun ada cerita lain yang berjalan paralel. Justru saat tekanan jual masif menghantam pasar, asing diam-diam mengoleksi sejumlah saham pilihan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) jadi yang paling banyak diborong secara nilai, dengan net buy asing Rp432,66 miliar. Angka yang cukup mencolok, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, mengingat pasar sedang dalam mode risk-off. Secara volume, BBCA membukukan net buy 70,26 juta lembar setelah asing membeli 136,56 juta dan melepas 66,29 juta lembar.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyusul di posisi kedua dengan net buy Rp95,51 miliar atau setara 118,85 juta lembar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masuk tiga besar dengan nilai net buy Rp75,15 miliar. Selebihnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dibeli Rp39,05 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp32,47 miliar, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp24,87 miliar.
Di sisi berlawanan, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) memimpin daftar top net sell dengan volume 119,77 juta lembar. Asing melepas 172,98 juta lembar sambil hanya membeli 53,20 juta lembar. PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menyusul dengan net sell 74,69 juta lembar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga kena tekanan jual asing sebesar 44,21 juta lembar. Kontras yang menarik, sebab BBCA dan BBRI justru dikoleksi di hari yang sama.
Satu nama yang agaknya patut dicermati lebih jauh: PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). Secara volume, BIPI justru memimpin daftar top buy dengan net buy 154,51 juta lembar, tertinggi di antara semua saham hari itu. Asing membeli 246,91 juta lembar dan menjual 92,39 juta lembar. Tapi secara nilai, angkanya hanya Rp19,17 miliar. Saham sen. Pergerakan volume besar dengan nilai kecil seperti ini kerap menjadi sinyal yang butuh konfirmasi lebih lanjut sebelum bisa dibaca apa-apa.
Total volume perdagangan BEI pada Jumat tercatat 20,32 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,35 triliun. Bukan sepi. Tapi mayoritas tekanannya datang dari sisi jual. Pertanyaannya sekarang: apakah aksi borong selektif asing di saham-saham blue chip perbankan ini cukup jadi sinyal pembalikan, atau sekadar averaging down sambil menunggu badai berlalu?