Gencatan senjata 8 April agaknya hanya jeda, bukan perdamaian. Ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel kembali memuncak pekan ini, dengan ancaman militer dan proposal diplomatik datang hampir bersamaan dalam hitungan jam.
Kepala Angkatan Darat Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir menyatakan IDF kini berada pada tingkat siaga tertinggi dan siap menghadapi "setiap perkembangan." Kata-kata itu ia sampaikan langsung ke seluruh komandan divisi. Sinyal yang tidak biasa. Bukan sekadar retorika.
Garda Revolusi Islam Iran melempar ancaman yang nadanya lebih keras dari biasanya. Mereka memperingatkan bahwa jika agresi terhadap Iran diulang, perang regional yang dijanjikan kali ini bakal "meluas jauh keluar kawasan, dan serangan dahsyat kami akan menghancurkan Anda." Klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan, tapi tidak bisa begitu saja diabaikan. Setidaknya itu yang terbaca dari pernyataan resmi di Sepah News.
Yang membuat situasi ini lebih pelik: AS dan Iran dilaporkan justru saling bertukar formula terkait program nuklir Teheran untuk pertama kalinya sejak negosiasi intensif dimulai. Intelijen AS dan Israel membaca pertukaran itu sebagai tanda melemahnya posisi Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang pada awal perundingan bersikap kaku dan menolak kompromi, mulai menunjukkan fleksibilitas. Tekanan ekonomi dan militer yang berat, kalau data ini bisa dipercaya, tampaknya mulai menggerus posisi tawarnya.
Presiden Donald Trump memilih momen ini untuk memasang tenggat. "Saya mengatakan dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, sesuatu, mungkin awal minggu depan, jangka waktu terbatas," katanya. Trump juga mengungkap bahwa para pemimpin Teluk Arab sempat memintanya menunda aksi militer di menit-menit terakhir.
Teheran tidak tinggal diam. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menulis di platform X: "Kembalinya perang akan menghadirkan lebih banyak kejutan." Pendek. Tapi terbuka untuk banyak interpretasi.
Di lapangan, koordinasi militer AS-Israel terus diperkuat secara taktis: penilaian situasi bersama, penguatan pusat komando di titik-titik strategis, dan peningkatan kesiapan untuk sejumlah skenario, termasuk kemungkinan serangan udara terhadap infrastruktur nasional Iran jika jalur diplomasi buntu.
Tekanan ini juga merambat ke pasar energi. Harga minyak Brent sempat melesat ke US$113 per barel sebelum tergerus ke kisaran US$109 setelah Trump memilih menahan diri demi ruang negosiasi. Di KTT G7 Paris, Menteri Keuangan AS Scott Bessent meluncurkan apa yang disebut Operation Economic Fury, paket sanksi yang dirancang memperketat cengkeraman ekonomi terhadap Teheran.
Dua jalur ini, diplomasi dan mobilisasi militer, kini bergerak beriringan dengan kecepatan yang sulit diprediksi. Pertanyaannya bukan lagi apakah ada kesepakatan, tapi siapa yang lebih dulu berkedip.