SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Identitas Green Boots Terkuak, India Siapkan Evaku...

Internasional

Identitas Green Boots Terkuak, India Siapkan Evakuasi Everest 2027

Setelah hampir tiga dekade, jasad Dorje Morup yang dikenal sebagai 'Green Boots' di jalur utara Everest akhirnya teridentifikasi lewat DNA. India kini menyiapkan misi evakuasi berisiko tinggi untuk April-Mei 2027.

Green Boots - Wikipedia

Hampir tiga dekade jasad itu terbaring beku di ketinggian 8.500 meter, menjadi penanda jalur yang lebih dikenal namanya daripada orangnya. Kini India akhirnya menyiapkan operasi untuk membawa pulang Dorje Morup, anggota Kepolisian Perbatasan Indo-Tibet yang tewas dalam badai Everest 1996, setelah identitasnya resmi dikonfirmasi lewat uji DNA.

Selama bertahun-tahun, para pendaki yang melewati jalur utara Everest dari Tibet hanya mengenalnya sebagai "Green Boots", merujuk pada sepatu bot hijau neon yang tetap mencolok di tengah lanskap batu dan es. Tidak ada yang tahu persis siapa orangnya. "Orang-orang mengenali 'Green Boots' sebagai penanda jalan, tetapi mereka tidak mengenal sosok manusia di balik julukan itu," ungkap Dawa Steven Sherpa, CEO Asian Trekking sekaligus pendaki senior Nepal.

Identifikasi itu baru terwujud setelah tim kecil Sherpa mengambil sampel DNA dari kuku dan rambut jasad dalam operasi senyap di ketinggian ekstrem tahun lalu. Laboratorium di India mengonfirmasi kecocokan. Nama yang sebelumnya hanya angka di arsip ITBP kini kembali menjadi manusia: Dorje Morup, 47 tahun, dari Ladakh.

Morup tergabung dalam ekspedisi musim semi 1996 bersama Tsewang Paljor dan Tsewang Smanla, ketiganya berusaha menjadi tim India pertama yang menaklukkan Everest lewat jalur utara. Pada 10 Mei 1996, mereka bergerak dari kamp terakhir di ketinggian 8.300 meter. Harbhajan Singh, inspektur jenderal ITBP yang memimpin rombongan, memutuskan berhenti lebih awal setelah melihat awan tebal mulai menggumpal. "Jika Anda mencoba, Anda tidak akan bisa kembali," ujar Singh kepada ketiga rekannya. Mereka tidak mendengarkan.

Kabar dari radio sempat membahagiakan. Morup, Paljor, dan Smanla melaporkan berhasil mencapai puncak. "Kami semua sangat senang," kenang Harbhajan Singh. Kegembiraan itu berlangsung singkat. Badai dengan angin 150-200 kilometer per jam dan suhu minus 60 hingga 80 derajat Celsius menerjang tanpa ampun, menelan delapan nyawa di kedua sisi Everest, termasuk pemandu legendaris Scott Fischer dan Rob Hall di sisi Nepal.

Nasib tiga pendaki ITBP itu berbeda-beda, sama-sama tragis. Paljor diduga jatuh ke jurang, Smanla menghilang di atas Second Step. Morup berhasil turun lebih jauh sebelum akhirnya terjebak di sebuah gua kapur kecil di bawah First Step. Di situlah jasadnya bertahan hingga hari ini.

Rencana evakuasi dijadwalkan April-Mei 2027, memanfaatkan jendela cuaca musim pendakian. Agaknya ini salah satu misi pemulangan jasad paling kompleks yang pernah direncanakan di mana pun. Di atas 8.000 meter, kadar oksigen terlalu rendah bahkan untuk helikopter beroperasi. Sekitar delapan Sherpa dibutuhkan, dilengkapi tandu khusus dan bantalan busa. "Jasadnya telah membeku padat, sehingga sangat, sangat sulit... anggota tubuh bisa patah jika tersangkut di batu lalu terpelintir," jelas Dawa.

Satu komplikasi lagi tidak bisa diselesaikan dengan peralatan teknis: izin China. Jalur utara Everest melintas di wilayah Tibet yang berada di bawah kendali Beijing, dan hubungan India-China masih diwarnai ketegangan sengketa perbatasan Himalaya. Tanpa lampu hijau diplomatik dari Beijing, seluruh persiapan tidak akan ada artinya. Bisa jadi ini hambatan terbesar, bahkan lebih dari medan itu sendiri.

Pihak ITBP menyatakan keputusan evakuasi diambil semata-mata sebagai penghormatan. "Kami merasa bahwa setiap pendaki ITBP yang pemberani harus diberikan perpisahan yang bermartabat," kata seorang pejabat lembaga itu kepada CNN. Jon Gangdal, pendaki senior Norwegia yang berada di Everest saat tragedi 1996 berlangsung, menyebutnya bukan sekadar gestur. "Ini adalah tanggung jawab India untuk membawa pria ini turun, terutama ketika mereka mengetahui bahwa dia telah menjadi seperti penanda kematian di gunung tersebut."

Nyaris 30 tahun. Selama itu jasad Morup melayani para pendaki secara tak sengaja, menjadi titik orientasi yang tidak pernah dia minta. April 2027 nanti, kalau semuanya berjalan sesuai rencana, tugasnya di sana akhirnya selesai.