SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  ICP April Tembus US$117, Industri Manufaktur Indon...

Ekonomi

ICP April Tembus US$117, Industri Manufaktur Indonesia Mulai Ketar-ketir

Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) melonjak 14,7% dalam sebulan ke level US$117,31 per barel. Di balik cuan sektor energi, industri manufaktur nasional mulai menanggung beban biaya produksi yang tidak ringan.

Harga Minyak Mentah Indonesia Naik!

Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) April 2026 resmi ditetapkan di level US$117,31 per barel, naik US$15,05 dibanding Maret 2026 yang tercatat US$102,26 per barel. Kenaikan hampir 15% dalam sebulan ini disahkan lewat Keputusan Menteri ESDM Nomor 203.K/MG.03/MEM.M/2026.

Konteksnya bukan rahasia. Konflik AS-Israel-Iran yang kembali memanas jadi pemantik utama: blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah, dan gejolak di Selat Hormuz membuat pasar memangkas proyeksi pasokan sekaligus menaikkan premi risiko. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman, dalam keterangan tertulis Selasa (19/5/2026), menyebut eskalasi konflik geopolitik itu sebagai pendorong utama kekhawatiran gangguan suplai minyak dunia, terutama dari jalur Hormuz yang krusial itu.

Brent sempat menyentuh US$118,03 per barel pada 29 April 2026, tertinggi tahun ini. WTI sempat menembus US$112,95 pada 7 April sebelum sedikit melandai. Per 12 Mei, keduanya masih bertahan di kisaran US$107,89 dan US$101,51. Perundingan damai AS-Iran dilaporkan mandek. Agaknya, tekanan belum kemana-mana.

Ada faktor lain yang kerap luput: ekonomi Tiongkok. Pertumbuhan 5% secara tahunan di triwulan I 2026 memberi sentimen positif terhadap permintaan minyak global, jadi kenaikan ICP ini bukan semata cerita geopolitik. Laode mengakui ada potensi penahan dari sisi permintaan, yakni proyeksi penurunan konsumsi minyak global di kuartal II sekitar 5 juta barel per hari secara year on year, plus peluang terbukanya kembali jalur diplomasi Iran-AS. Tapi kalau melihat angkanya sekarang, faktor-faktor penahan itu belum cukup gigit.

Bagi sektor hulu energi domestik, ini jelas angin segar. Data Bank Mandiri menunjukkan sektor pertambangan batu bara, minyak bumi, gas, hingga CPO paling diuntungkan dari siklus harga naik berkepanjangan seperti ini, karena pendapatan dan margin terdongkrak langsung. Sektor energi hijau dan perkebunan pun ikut kecipratan.

Cerita berbeda datang dari sisi hilir. Beda sekali, malah. Setiap kenaikan harga energi 10% saja, biaya produksi sektor listrik diperkirakan melonjak 9,3%, petrokimia 6,9%, pupuk 6,3%, plastik 6,2%, dan semen 3,8%. Kenaikan ICP kali ini jauh melampaui angka 10% itu. Industri farmasi, manufaktur elektronik, dan otomotif masuk daftar paling rawan karena ketergantungan mereka pada bahan baku impor menjadi berlipat-lipat beratnya ketika rupiah bersamaan ikut melemah.

Dua pukulan sekaligus. Pelemahan rupiah menghantam industri berbasis impor dari dua arah: harga bahan baku yang sudah naik karena energi global, lalu ditambah nilai tukar yang mempermahal setiap dolar pembelian. Kalau kondisi ini berlanjut, margin keuntungan di sektor manufaktur non-komoditas bisa tergerus cukup dalam, dan ujungnya ada kemungkinan kenaikan harga produk yang dirasakan langsung oleh konsumen.

Pemerintah, kata Laode, akan terus memantau perkembangan pasar minyak global secara cermat untuk menjaga ketahanan energi nasional. Kalimat yang terdengar meyakinkan. Tapi tekanan inflasi yang datang dari harga energi impor adalah variabel yang sulit dikendalikan dari dalam negeri, dan seberapa tebal bantalan yang bisa disiapkan itulah yang kini paling relevan bagi pelaku industri.