Satu per satu, orang-orang Duterte mulai ditagih.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) resmi membuka segel surat perintah penangkapan terhadap Senator Ronald "Bato" Dela Rosa pada Senin (11/5), menjadikannya figur paling senior kedua dalam lingkaran eks Presiden Rodrigo Duterte yang kini berurusan dengan pengadilan internasional. Surat perintah itu sendiri sudah diterbitkan sejak 6 November 2025, disimpan rapat-rapat sampai situasi dinilai tepat.
Publikasi saja sudah cukup bikin Dela Rosa bergerak. Senator itu langsung berlindung di kompleks Senat Filipina di Manila, memanfaatkan status legislatifnya sebagai tameng sementara. Bukan langkah mengejutkan, bagi siapapun yang mengikuti drama Manila belakangan ini.
Dela Rosa bukan nama sembarangan dalam narasi perang narkoba Duterte. Ia pernah menjabat Direktur Kepolisian Davao City sebelum naik menjadi Kepala Kepolisian Nasional Filipina saat Duterte berkuasa. ICC mendakwanya punya peran krusial dalam merancang dan menjalankan rentetan operasi di luar hukum yang menarget tersangka kriminal dan pengguna narkoba. Rentang waktunya panjang: 1 November 2011 hingga 16 Maret 2019, mencakup periode sebelum Duterte bahkan menjadi presiden nasional.
Kantor Jaksa ICC, dalam pernyataan resminya, menyebut surat perintah yang sempat disampaikan kepada otoritas Filipina itu baru dipublikasikan sekarang karena adanya "perubahan situasi". Frasa yang agaknya merujuk pada dinamika politik Manila yang memang sudah bergeser sejak Duterte sendiri lebih dulu masuk kandang.
Duterte ditangkap dan dipindahkan ke fasilitas tahanan ICC pada Maret 2025. Sidang perdananya berlangsung 14 Maret 2025. Upaya banding atas dasar kondisi kesehatan dan usia lanjut? Kandas, ditolak ICC pada 28 November 2025. Pada 23 April lalu, tiga dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan resmi dikonfirmasi. Duterte kini menunggu persidangan penuh.
Artinya, kasus Dela Rosa bukan berdiri sendiri. Ini bagian dari satu bangunan besar yang sedang ICC tegakkan: akuntabilitas sistematis atas ribuan nyawa yang melayang dalam kampanye antinarkotika, yang menurut penyelidik internasional lebih menyerupai program pembantaian terorganisir daripada penegakan hukum biasa. Kalau data ini bisa dipercaya, jumlah korban jauh melampaui angka resmi yang pernah diakui Manila.
Pertanyaannya sederhana: seberapa lama tembok Senat bisa menahan apa yang sudah berjalan?