Israel Aerospace Industries (IAI) punya jawaban baru untuk ancaman yang dalam beberapa tahun terakhir bikin pusing hampir semua angkatan bersenjata di dunia: kawanan drone murah yang datang bersamaan dan susah ditangkis satu per satu.
Sistemnya bernama Hypnosis. Cara kerjanya bukan menghancurkan, melainkan membingungkan. IAI merancang perangkat ini untuk mengacaukan sinyal navigasi satelit (GNSS/GPS) yang menjadi "otak" dari ancaman udara tanpa awak. Begitu sinyal navigasinya dimanipulasi, drone kehilangan orientasi dan gagal mencapai target. Agaknya jauh lebih efisien secara biaya ketimbang menembak satu per satu dengan rudal interceptor. Kalau data lapangan bisa dipercaya, selisih biayanya bisa jomplang.
Bukan kebetulan inovasi ini lahir dari IAI. Perusahaan pertahanan milik negara Israel itu punya rekam jejak panjang di bidang NAVWAR, atau navigational warfare, cabang peperangan elektronik yang fokus pada manipulasi dan perlindungan sistem navigasi. Pengalaman bertahun-tahun di medan nyata, terutama menghadapi ancaman UAV dari aktor-aktor nonnegara di kawasan, menjadi fondasi keras di balik pengembangan Hypnosis.
Konteks kemunculannya juga tidak bisa dilepaskan dari pergeseran pasar senjata global. Kawanan drone kini bukan lagi senjata masa depan. Murah, bisa diproduksi massal, dan mematikan jika diturunkan dalam jumlah besar sekaligus. Kombinasi itulah yang membuat sistem pertahanan konvensional kelabakan. Hypnosis menawarkan solusi asimetris: satu sistem peperangan elektronik untuk melumpuhkan banyak ancaman, tanpa harus menguras interceptor senilai jutaan dolar per unit.
AS dan sekutu NATO-nya pun tengah bergelut dengan masalah serupa, yakni stok rudal pencegat yang mulai menipis akibat tekanan kebutuhan medan perang aktual. Kontras ini justru memperkuat relevansi pendekatan IAI. Interceptor semakin mahal dan langka, solusi berbasis peperangan elektronik seperti Hypnosis pun makin masuk akal secara strategis. Ibarat pedang bermata dua: saat satu sisi tumpul karena keterbatasan stok, sisi lain harus diasah lebih tajam.
Belum ada rincian resmi soal harga maupun negara pembeli pertama yang diumumkan IAI. Yang jelas, dalam lomba senjata UAV versus anti-UAV yang terus memanas, Hypnosis masuk ke pasar dengan proposisi yang sulit diabaikan.