Empat puluh hari konflik bersenjata, dan Washington mulai kehilangan kesabaran.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, tampil di hadapan presenter televisi Israel Hila Korach di Tel Aviv, Selasa (12/5/2026), menyampaikan pesan yang tidak banyak basa-basi kepada negara-negara Teluk. "Negara-negara Teluk sekarang mengerti bahwa mereka harus memilih. Apakah lebih mungkin mereka akan diserang oleh Iran atau Israel?" tegasnya.
Bukan sekadar retorika.
Huckabee mengonfirmasi bahwa Israel telah mengirimkan baterai pertahanan udara Iron Dome ke Uni Emirat Arab, lengkap dengan personel militer Israel untuk mengoperasikannya. UEA, ia sebut, termasuk yang paling keras dihajar serangan Iran selama konflik berlangsung. Entah kebetulan atau tidak, itu jadi argumen paling konkret yang bisa ia sodorkan: Israel tidak menyerang Anda, justru membantu Anda bertahan. "Israel tidak mencoba mengambil alih tanah Anda dan tidak mengirimkan rudal kepada Anda," sambungnya.
Huckabee, pendeta Baptis yang dikenal sebagai figur pro-Zionis, mengaku yakin lebih banyak negara Arab kini akan menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv lewat kerangka Kesepakatan Abraham. Klaim yang masih perlu dibuktikan. Kemarahan publik Arab atas situasi Gaza belum mereda, dan ketidakpuasan terhadap kedekatan Washington-Tel Aviv tumbuh bahkan di dalam negeri AS sendiri.
Meja perundingan, sementara itu, kian dingin.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, merespons kebuntuan terbaru dengan nada ultimatum. Lewat unggahan di X, ia menegaskan bahwa tidak ada jalan lain selain AS menerima hak-hak rakyat Iran sebagaimana tertuang dalam proposal 14 poin Teheran. "Pendekatan lain apa pun akan sepenuhnya tidak membuahkan hasil, hanya kegagalan demi kegagalan," tulisnya. Ia menambahkan, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal serius dan bukan sekadar gertakan, bahwa semakin lama Washington mengulur waktu, semakin dalam kantong wajib pajak Amerika terkuras.
Proposal AS sendiri, berdasarkan laporan media, hanya setebal satu halaman. Nota kesepahaman tipis yang bertujuan mengakhiri pertempuran sekaligus membangun kerangka negosiasi soal program nuklir Iran. Agaknya tidak cukup untuk Teheran.
Iran membalasnya dengan daftar tuntutan jauh lebih panjang: penghentian perang di semua lini termasuk Lebanon, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan pembebasan aset-aset yang dibekukan di luar negeri akibat sanksi bertahun-tahun. Apa imbalannya dari Teheran? Kementerian Luar Negeri Iran memilih diam.
Presiden Trump sudah menyebut proses gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi kritis. Selat Hormuz masih tercekik. Pasar global masih bergejolak. Dan Iran memegang kartu yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Negara-negara Teluk kini terjepit antara dua tekanan yang sama-sama tidak nyaman: ancaman militer Iran yang sudah terbukti nyata, dan desakan politik Washington yang meminta mereka merapatkan barisan. Iron Dome kiriman Israel mungkin sudah terpasang di Abu Dhabi. Tapi soal ke mana angin politik kawasan akan bertiup, itu cerita yang belum selesai ditulis.