Lebih dari 20 juta orang Indonesia hidup dengan diabetes, dan 70% di antaranya tidak tahu. Data International Diabetes Federation itu agaknya jadi amunisi utama Huawei saat meluncurkan Watch Fit 5 series di tanah air, smartwatch yang mereka klaim sebagai yang pertama di industri menawarkan fitur Diabetes Risk Study.
Dua varian hadir sekaligus: Basic dan Pro. Yang Basic dibanderol mulai Rp2,5 juta, sementara versi Pro masuk di kisaran Rp3 jutaan. Selisih harga itu bukan tanpa alasan. Pro datang dengan material aerospace grade titanium alloy, layar kaca safir tahan benturan, dan panel AMOLED 1,92 inci yang bisa menyala hingga 3.000 nit. Terang. Tidak main-main.
Fitur diabetes-nya bekerja lewat sensor PPG (photoplethysmography), yang membaca cahaya untuk memantau aliran darah, lalu digabungkan dengan data tidur, variabilitas detak jantung, dan pola aktivitas fisik pengguna. Algoritmanya butuh waktu tiga hingga 14 hari pemakaian konsisten sebelum bisa menghasilkan pembacaan bermakna. Hasilnya bukan diagnosis medis, itu perlu ditegaskan. Huawei memposisikannya sebagai alat early warning, sinyal kuning yang mendorong pengguna segera ke dokter kalau risiko menunjukkan level sedang atau tinggi.
Di luar urusan gula darah, spesifikasi perangkat ini cukup untuk bikin pesaing di kelas yang sama perlu sedikit berkeringat. Memori internal 64 GB memungkinkan pengguna menyimpan ribuan lagu untuk diputar offline. Baterai diklaim tahan tujuh hingga delapan hari pemakaian normal, dan dukungan mode olahraga mencapai lebih dari 100 jenis, termasuk free diving hingga kedalaman 40 meter, badminton, tenis, sampai fitur Mini Workout dengan panduan animasi untuk yang mau tetap bergerak di sela jam kerja.
Bagi pelari, Huawei menyematkan teknologi GPS Sunflower Positioning yang diklaim akurat di segala kondisi medan. Klaim yang, seperti biasa, masih perlu dibuktikan di jalan-jalan sempit dengan gedung tinggi di kanan-kiri. Entah kebetulan atau tidak, ini juga salah satu titik lemah yang hampir selalu luput dari brosur produk mana pun.
Apakah fitur deteksi risiko diabetes ini benar-benar mengubah lanskap wearable di Indonesia, atau sekadar marketing hook yang kinclong di atas kertas? Pertanyaan yang belum bisa dijawab hari ini. Dengan basis pengguna diabetes yang besar dan mayoritas masih gelap soal kondisi mereka sendiri, Huawei agaknya menemukan angle yang tepat di waktu yang tepat. Tinggal tunggu akurasi aktualnya diuji pengguna nyata.