Sepanjang beberapa tahun terakhir, Huawei konsisten mendorong batas kemampuan smartwatch, dari sekadar penghitung langkah menjadi perangkat kesehatan yang serius. Watch Fit 5 series yang kini resmi masuk pasar Indonesia mempertegas arah itu, dengan amunisi yang cukup bikin kompetitor was-was: sensor deteksi risiko diabetes.
Bukan klaim ringan. Fitur pemantauan terkait gula darah di perangkat wearable konsumen masih terbilang langka, dan Huawei agaknya ingin mengkapitalisasi celah itu sebelum pemain lain sempat bergerak. Teknologi yang diusung adalah sistem TruSeen generasi terbaru, diklaim mampu menghasilkan pembacaan data biometrik lebih presisi dibanding pendahulunya.
Dari sisi rupa, Watch Fit 5 mempertahankan form factor layar persegi panjang yang sudah jadi identitas seri ini. Tapi eksekusinya terasa lebih dewasa kali ini. Bezel lebih tipis, material bodi stainless steel atau aluminium berkualitas tinggi, cukup ringan untuk lari pagi sekaligus tidak canggung di meja rapat. Lumayan, untuk harga di kelas ini.
Bicara banderol, Watch Fit 5 series diprediksi masuk di rentang Rp1,8 juta hingga Rp2,5 juta tergantung varian, meski angka resmi dari Huawei Indonesia masih dalam konfirmasi. Kalau benar fitur medisnya secanggih yang diklaim, ini bisa jadi proposisi nilai yang sulit diabaikan, terutama bagi konsumen yang selama ini melirik perangkat serupa dari brand Korea atau Amerika dengan banderol dua kali lipat lebih.
Pasar wearable Indonesia memang sedang bergerak naik, beriringan dengan meningkatnya kesadaran soal kesehatan pasca pandemi. Segmen ini tidak lagi melulu soal gadget enthusiast. Kalangan profesional muda sampai lansia aktif yang mulai melek monitoring kesehatan harian kini ikut masuk. Huawei, dengan portofolio wearable-nya yang cukup dalam, berada di posisi yang tepat untuk meraup irisan pasar itu.
Pertanyaan yang belum terjawab: seberapa akurat sensor risiko diabetes ini dalam kondisi penggunaan nyata? Klaim spesifikasi di atas kertas selalu terdengar meyakinkan. Validasi klinis, cerita lain. Bagi konsumen yang berniat membeli bukan sekadar karena fitur, ada baiknya menunggu ulasan independen sebelum menjadikannya alat pantau kesehatan utama, kalau data klinis ini memang bisa dipercaya penuh.