Dua kuartal belakangan, persaingan smartphone lipat seakan macet di tempat: engsel makin tipis, layar makin mulus, tapi form factor-nya itu-itu saja. Huawei rupanya tidak sabaran menunggu.
Dalam rentang waktu yang nyaris berdekatan, raksasa teknologi asal China ini bergerak dengan dua langkah sekaligus. Pertama, meluncurkan Pura X Max, perangkat lipat dengan konsep wide foldable yang langsung mencuri perhatian komunitas gadget global. Kedua, mendaftarkan paten untuk desain lipat tiga vertikal, sesuatu yang belum pernah ada dalam format komersial sebelumnya.
Pura X Max bukan sekadar iterasi. Perangkat ini memperkenalkan apa yang Huawei sebut dual wide display, di mana layar luar berukuran 5,4 inci dan layar utama 7,7 inci dirancang lebih lebar dari proporsi foldable konvensional. Hasilnya, bahkan saat dilipat pun, pengguna mendapat ruang layar yang jauh lebih lega dibanding Galaxy Z Fold atau Pixel Fold generasi mana pun.
David Brendi dari GadgetIn menyebut Pura X Max sebagai "spesies baru" di kategori smartphone lipat. Framing yang, agaknya, tidak berlebihan. Format layar ini membuat perangkat terasa lebih mendekati tablet mini saat dibuka, ideal untuk multitasking, membaca dokumen panjang, atau streaming video tanpa black bar tebal menghalangi sisi layar.
Ada konsekuensinya, tentu. Cover screen yang lebih lebar membuat beberapa sudut layar lebih sulit dijangkau satu tangan saat mengetik, sesuatu yang Brendi akui langsung dalam pengujiannnya. Bukan cacat fatal, tapi trade-off nyata bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.
Dari sisi performa, Pura X Max mengandalkan chipset Kirin 9030 Pro. Untuk kebutuhan harian hingga gim seperti Mobile Legends, performanya dinilai lebih dari cukup. Catatan kritis datang dari Notebookcheck: kemampuan grafis GPU-nya belum setara Snapdragon flagship terbaru, dan belum mendukung hardware ray tracing. Cukup untuk bikin gamer hardcore berpikir dua kali.
Sistem kamera tiga lensa hadir dengan konfigurasi 50 MP aperture variabel plus OIS sebagai kamera utama, telefoto periskop 50 MP dengan zoom optis 3,5x, dan ultrawide 12,5 MP. Form factor lipat juga dimanfaatkan untuk selfie kualitas tinggi via kamera utama, tanpa harus bergantung pada kamera depan yang secara optik biasanya lebih lemah.
Huawei memasarkan Pura X Max di China mulai kisaran 11.000 hingga 14.000 yuan, setara Rp25 jutaan ke atas tergantung konfigurasi RAM dan storage, dengan opsi tertinggi mencapai 16 GB RAM dan 1 TB penyimpanan internal. Tersedia pula Collectors Edition dengan kemasan premium berlapis emas untuk segmen kolektor.
Satu catatan penting bagi pembeli di luar China: perangkat ini berjalan di HarmonyOS versi lokal tanpa Google Mobile Services. Fitur AI seperti Smart Capture, AI Image Creation, hingga komunikasi darurat via satelit memang tersedia. Tapi ketiadaan ekosistem Google tetap menjadi tembok yang nyata bagi sebagian besar pengguna global.
Belum selesai di situ. Bersamaan dengan hype Pura X Max, dokumen paten Huawei untuk smartphone lipat tiga vertikal bocor ke publik melalui laporan GSMArena pada 17 Juni 2026. Berbeda dari Mate XT Ultimate Design yang tampil lipat tiga horizontal dengan layar 10,2 inci saat dibuka penuh, konsep vertikal ini dirancang melipat memanjang menjadi sepertiga ukuran aslinya. Hasilnya, dimensi yang jauh lebih saku dan ergonomis.
Dokumennya masih berstatus pengajuan hak paten desain industri. Belum ada pengumuman produksi massal. Tapi dalam industri yang bergerak secepat ini, jarak antara dokumen paten dan peluncuran komersial bisa lebih pendek dari perkiraan. Huawei sudah membuktikannya dengan Mate XT.
Entah kebetulan atau tidak, kedua langkah ini terjadi tepat di momen ketika Apple dan Samsung masih berkutat dalam rumor perangkat foldable generasi berikutnya. Huawei tidak menunggu. Mereka yang menetapkan tempo.