Dua juta rupiah. Di angka itu, pasar smartphone Indonesia ternyata jauh lebih brutal dari yang kebanyakan orang kira.
Sepanjang 2026, segmen mid-low hingga mid-range dipadati pilihan yang bikin konsumen harus mikir dua kali sebelum pencet checkout. Samsung dan Oppo, dua pemain yang memang sudah lama bermain keras di kelas ini, kembali memperkuat jajaran andalannya dengan fitur yang biasanya cuma nongol di hp sejutaan lebih mahal: optical image stabilization alias OIS.
Bukan fitur remeh. OIS bekerja di level lensa fisik, artinya foto dan video tetap tajam meski tangan bergetar atau kamu jalan sambil merekam. Di kelas Rp3 jutaan, keberadaan fitur ini dulu masih bisa dibilang bonus. Sekarang? Sudah nyaris jadi tiket masuk.
Dari kubu Samsung, Galaxy A17 4G masuk sebagai opsi paling terjangkau dalam lineup ini, pas buat yang belum butuh konektivitas 5G tapi tidak mau kompromi soal kualitas foto. Naik sedikit, Galaxy A17 5G dan Galaxy A25 5G menawarkan koneksi lebih kencang dengan paket kamera yang kompetitif di rentang harga yang sama. Galaxy A26 5G, yang tergolong baru, melengkapi barisan dengan desain lebih segar dan pembaruan di sisi performa.
Oppo tidak tinggal diam. Reno 13 F 5G agaknya jadi senjata paling anyar di lini ini. Reno 12 F 5G tetap relevan sebagai alternatif yang harganya bisa lebih bersahabat. Dan Reno 11 5G, meski sedikit lebih lawas, masih layak dipertimbangkan kalau prioritasmu kamera, bukan sekadar mengejar angka spesifikasi di kertas.
Kedua brand bermain di segmen harga yang nyaris identik, tapi pendekatannya berbeda. Samsung cenderung unggul di ekosistem dan komitmen update software jangka panjang, sementara Oppo biasanya lebih agresif di desain dan fitur kamera out-of-the-box. Ibarat dua warung mie ayam di seberang jalan: bahan dasarnya sama, tapi rasa dan pengalamannya bisa jauh berbeda tergantung selera.
Untuk yang bujetnya lebih ketat, pilihan di bawah Rp2 juta juga tidak sesuram yang dibayangkan. Segmen ini memang tidak bisa berharap OIS, tapi kualitas kamera harian untuk foto siang hari dan konten media sosial sudah lebih dari cukup.
Pertanyaannya bukan lagi soal apakah hp kelas ini layak beli. Pertanyaannya: seberapa sering kamu foto dalam kondisi minim cahaya atau sambil bergerak? Kalau jawabannya sering, OIS bukan gimmick. Kalau tidak, hp di bawah Rp2 juta sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan selisih Rp1 jutanya bisa ditabung untuk hal lain.