SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Houthi Serang Darat dan Laut Merah dalam Satu Hari...

Internasional

Houthi Serang Darat dan Laut Merah dalam Satu Hari: 16 Tentara Tewas, Kapal Kargo Digempur

Kelompok pemberontak Houthi melancarkan serangan darat paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di dekat Hodeidah, sekaligus kapal kargo diserang di Laut Merah, memperbarui kekhawatiran terhadap stabilitas jalur energi global.

Serangan Houthi menewaskan 14 tentara Yaman.

Enam belas tentara pemerintah Yaman tewas dan 22 lainnya luka-luka setelah kelompok pemberontak Houthi melancarkan serangan terkoordinasi di distrik Hays, selatan kota pelabuhan Hodeidah, dalam insiden yang oleh seorang perwira pasukan pemerintah disebut sebagai serangan Houthi paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pertempuran pecah Jumat malam. Pasukan Houthi menyerbu dengan kombinasi penembak jitu, drone, dan mortir, sempat merebut sejumlah posisi pertahanan pemerintah. Baru pada Sabtu dini hari pasukan loyalis berhasil merebut kembali wilayah yang sempat hilang. Korban di pihak Houthi juga dilaporkan ada, meski pejabat militer tidak merinci angkanya.

Belum selesai di darat, ancaman datang dari laut. Masih di hari yang sama, sebuah kapal kargo curah menerima serangan di Laut Merah, sekitar 30 mil laut di barat daya Hodeidah. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mencatat sebuah kapal kecil mendekati kapal tersebut lalu melepaskan tembakan. Petugas keamanan di atas kapal membalas, dan penyerang mundur menuju kapal induk yang beroperasi tanpa sinyal AIS aktif. Seluruh awak selamat. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab, meski Houthi sebelumnya memang sudah mengancam akan kembali menyasar kapal-kapal yang melintasi Laut Merah.

Sehari sebelum serangan darat meletus, tepatnya 3 Juli, Houthi secara eksplisit mengancam akan menargetkan bandara dan infrastruktur vital Arab Saudi. Alasannya: Riyadh dituding berusaha menghalangi pesawat Iran mendarat di wilayahnya.

Satu kebetulan yang agaknya bukan kebetulan. Sejak Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni untuk mengakhiri hampir empat bulan konflik, Selat Hormuz kembali terbuka. Volume ekspor minyak Arab Saudi melalui selat itu melonjak lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 15 juta barel sepanjang 9 Maret hingga 17 Juni menjadi sekitar 34 juta barel hanya dalam dua pekan sesudahnya, berdasarkan data firma intelijen perdagangan Kpler. Harga minyak mentah Brent sudah tergerus sekitar 39% dari puncaknya di Maret.

Normalnya jalur Hormuz justru mendorong kapal-kapal besar kembali melewati Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Bab el-Mandeb sendiri sempat menjadi tumpuan distribusi minyak ke pasar Asia, terutama Jepang dan Korea Selatan, ketika Arab Saudi mengalihkan jutaan barel per hari melalui jaringan East-West Pipeline. Kalau serangan di kawasan ini intensif lagi, bisa jadi sinyal bahwa Houthi tidak rela kehilangan daya tawarnya begitu saja.

Konflik Yaman sudah membara sejak 2015, menelan ratusan ribu nyawa dan menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Gencatan senjata yang dimediasi PBB sejak 2022 meredam banyak pertempuran, tapi tidak pernah benar-benar memadamkannya. Houthi masih menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar Yaman utara termasuk Hodeidah, sementara pemerintah yang diakui secara internasional bertahan di selatan.

Apakah ini eskalasi terisolir, atau pembukaan babak baru? Jawaban itu yang kini sedang dicermati pasar energi global.