SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Houthi Rilis Video Ancaman ke Fasilitas Vital Saud...

Internasional

Houthi Rilis Video Ancaman ke Fasilitas Vital Saudi Seusai Bandara Sanaa Dibom

Serangan udara ke Bandara Internasional Sanaa memantik ancaman balasan kelompok Houthi yang kini membidik bandara, pelabuhan, hingga kilang minyak Arab Saudi.

Kelompok Houthi memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap serangan yang dipimpin oleh Arab Saudi.

Rekaman video berjudul "Balasan akan datang" itu beredar tidak lama setelah ledakan pertama menghantam landasan pacu Bandara Internasional Sanaa, Senin siang. Bukan produksi propaganda biasa. Kamera dalam video buatan Media Militer Houthi itu menyapu satu per satu lokasi strategis Arab Saudi: Bandara King Khalid di Riyadh, Bandara King Abdulaziz di Jeddah, Bandara King Fahd di Dammam, hingga kilang dan kompleks ekspor minyak Ras Tanura di Provinsi Timur.

Semua bermula dari pengeboman yang, menurut klaim pemerintah Yaman, bertujuan mencegah pendaratan pesawat pembawa delegasi Houthi dari Iran. Koalisi pimpinan Riyadh menyebut serangan itu sah secara militer. Houthi punya versi berbeda, dan versi itulah yang mereka pilih sebagai pijakan untuk membalas.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengumumkan bahwa pesawat tempur koalisi Saudi melancarkan beberapa serangan udara ke Bandara Internasional Sanaa. "Di saat musuh Saudi terus mempertahankan blokade yang tidak adil terhadap rakyat Yaman, tepat pada pukul 13.54 hari ini, Senin, musuh Saudi melancarkan tindakan agresi nyata menggunakan pesawat tempur terhadap Bandara Internasional Sanaa. Mereka melakukan beberapa serangan udara dengan tujuan melumpuhkan operasional bandara bagi penerbangan kemanusiaan yang mengangkut pasien serta warga sipil," katanya, seperti dikutip Almayadeen.

Sebagai respons, Houthi mengklaim telah melancarkan serangan balasan ke Bandara Internasional Abha menggunakan rudal balistik dan drone. Eskalasi ini muncul ketika gencatan senjata yang disepakati dua pihak kini oleh Houthi dinyatakan secara efektif berakhir. Perang kata-kata berubah jadi perang sungguhan, dan cepatnya.

Konflik Yaman yang melibatkan koalisi Saudi dimulai Maret 2015, ketika Raja Salman bin Abdulaziz memerintahkan operasi militer setelah Houthi merebut Sanaa dan bergerak ke Aden. Hampir satu dekade berlalu. Korban jiwa yang terkait konflik ini diperkirakan antara 150.000 hingga lebih dari 377.000 orang, sebagian besar dari penyebab tidak langsung: kelaparan, penyakit, wabah kolera. Dewan Hubungan Luar Negeri mencatat bahwa 60 persen dari perkiraan 377.000 kematian antara 2015 dan 2022 berasal dari penyebab tidak langsung itu. Infrastruktur sipil Yaman, dari rumah sakit hingga pasar, berulang kali dihajar serangan udara.

Kini posisinya berbalik, setidaknya dalam dimensi ancaman. Peta yang dirilis media militer Houthi mencakup Pelabuhan Jazan, Pelabuhan Islam Jeddah, hingga Pelabuhan Industri King Fahd, yang secara kolektif mewakili tulang punggung perdagangan dan ekspor energi Saudi. Jangkauan geografis pemetaan itu membentang dari pesisir Laut Merah hingga kawasan Timur penghasil minyak. Satu pesan yang agaknya ingin disampaikan: rudal dan drone Houthi bisa menjangkau lebih jauh dari yang selama ini dianggap aman oleh Riyadh.

Apakah ini gertakan atau cetak biru operasional, bisa jadi pasar energi global tidak akan menunggu jawaban untuk mulai gelisah. Ras Tanura saja memproses sebagian besar kapasitas ekspor minyak Saudi. Setiap gangguan di sana bisa memantik volatilitas harga minyak yang dampaknya jauh melampaui Jazirah Arab.