SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Hormuz Jadi Kartu Truf, Washington Mulai Kehabisan...

Internasional

Hormuz Jadi Kartu Truf, Washington Mulai Kehabisan Pilihan

Lima bulan lebih bertempur, Amerika Serikat kini menghadapi kenyataan pahit: keunggulan militer tidak otomatis menghasilkan kemenangan politik. Selat Hormuz telah berubah dari target operasi menjadi jebakan strategis.

Iran Tak Perlu Mengalahkan Amerika Serikat untuk Menang

Wakil Presiden JD Vance, dalam wawancara di Fox News Kamis pekan ini, tanpa tedeng aling-aling membalik narasi yang selama ini dibangun Trump. Prioritas utama AS dalam perang melawan Iran, kata Vance, bukan lagi program nuklir Teheran, melainkan menurunkan harga bensin bagi konsumen Amerika.

"Itu adalah tujuan nomor satu: menjaga harga minyak dan gas tetap murah bagi rakyat Amerika di seluruh negeri. Tentu saja, tujuan nomor dua adalah memastikan Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir," kata Vance.

Pernyataan itu bukan sekadar perubahan framing. Ini pengakuan implisit bahwa perang yang dimulai 28 Februari 2026 bersama Israel, dengan justifikasi nuklir sebagai argumen utama, kini tersandera oleh satu jalur sempit sepanjang 167 kilometer yang memisahkan Teluk Persia dengan Laut Oman. Iran hampir sepenuhnya menutup Selat Hormuz sebagai respons serangan, dan chokepoint itu mengalirkan sekitar 20 persen minyak mentah dunia.

Dampaknya tidak butuh penjelasan panjang. Harga minyak sempat menembus 100 dolar AS per barel, harga bensin di banyak kota AS melampaui enam dolar per galon, dan tingkat kepuasan publik terhadap Trump amblas. Minyak Brent sudah turun ke kisaran 87 dolar per barel pada Kamis, jauh dari puncaknya tapi masih 21 persen lebih tinggi dari posisi sebelum perang di angka 72 dolar.

Aramco memperkirakan dunia telah kehilangan sekitar 2,6 miliar barel minyak sejak awal konflik, setara konsumsi global 25 hari. Angka yang tidak main-main. Ini menjadikan perang AS-Iran sebagai gangguan pasokan terbesar secara kumulatif sejak Revolusi Iran 1979. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan pasokan minyak global akan turun 4,3 juta barel per hari sepanjang tahun ini, lebih buruk dari proyeksi sebulan lalu yang masih di angka 3,7 juta barel.

Para petinggi militer AS, diam-diam, mulai membicarakan keterbatasan yang selama ini tidak diungkap ke publik. Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, dalam pertemuan-pertemuan tertutup, semakin terbuka menyampaikan dilema yang dihadapi Washington. Kekuatan udara saja, menurutnya, kecil kemungkinan mampu mencapai tujuan-tujuan yang diumumkan Trump. Satu sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebut Caine sedang aktif "mencari jalan keluar".

Jenderal bintang empat purnawirawan Barry McCaffrey, veteran Perang Teluk, lebih blak-blakan. Posisi Washington saat ini, katanya, "jalan buntu total". Tidak ada opsi militer yang dapat menjamin pembukaan Hormuz tanpa pengerahan pasukan darat dalam skala besar, operasi yang butuh sekitar satu tahun dan berpotensi menimbulkan korban masif di pihak AS. Opsi itu telah disingkirkan.

"Kekuatan militer Amerika Serikat masih unggul, tetapi tidak efektif untuk menyelesaikan persoalan ini," tegasnya dalam wawancara televisi yang dikutip Fars News Agency.

McCaffrey juga mengakui Washington kemungkinan telah meremehkan tingkat permusuhan Garda Revolusi Iran terhadap AS, terutama setelah serangan awal yang menargetkan sebagian besar pemimpin politik, ekonomi, dan militer Teheran. Kalkulasi yang salah sejak hari pertama, agaknya.

Pengamat dari Royal United Services Institute (RUSI), Michael Stephens, membaca strategi Iran dengan cara yang lebih dingin. Teheran, menurutnya, sengaja mengulur waktu karena sudah menghitung bahwa Washington tidak akan menerjunkan pasukan darat. "Ketakutan terhadap ancaman eksistensial itu kini telah lenyap," ujar Stephens kepada Al Jazeera. Iran justru ingin konflik ini bertahan lebih lama karena setiap hari yang berlalu menambah tekanan ekonomi dan politik bagi Trump.

Analis politik berbasis di Teheran, Hossein Royvaran, juga menunjuk pelabuhan-pelabuhan Iran di Laut Kaspia yang tetap aktif memenuhi kebutuhan domestik. Blokade laut AS, baginya, tidak akan efektif terhadap negara dengan perbatasan darat sepanjang 7.000 kilometer dan garis pantai 3.000 kilometer. Pertanyaannya, berapa lama tekanan itu benar-benar menggigit?

Washington tidak tinggal diam. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan AS bisa mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu melalui rotasi kapal. Menteri Keuangan Scott Bessent menjanjikan "langkah-langkah isolasi ekonomi yang belum pernah disaksikan dunia sebelumnya" akan diumumkan pekan depan, mencakup pemblokiran segala sesuatu yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.

Efektivitas ancaman itu belum cukup mengubah kalkulasi Teheran. Juru bicara IRGC Ebrahim Zolfaghari menegaskan tidak ada kapal yang bisa melintasi Hormuz tanpa izin Iran. Kamis lalu, dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company diserang saat melintas di selat tersebut, sementara total lalu lintas kapal anjlok di bawah rata-rata bulanan.

Senator Demokrat Chris Murphy menyebut Amerika kini semakin lemah, Iran semakin kuat, dan masyarakat AS menanggung beban ekonomi yang kian berat. Ia bahkan mengaku siap menerima kesepakatan yang buruk sekalipun, asal Hormuz kembali dibuka. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan pembukaan kembali selat itu tanpa terlebih dahulu menuntaskan isu nuklir, menyempitkan tujuan perang yang semula jauh lebih ambisius.

Iran mematok syarat yang tidak ringan: pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset yang dibekukan, dan pembentukan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS. Angka yang membuat sebagian kalangan di Washington mengernyitkan dahi.

Lima bulan perang, satu paradoks yang belum ada jawabannya. AS superior secara militer, tapi tidak bisa mengonversi superioritas itu menjadi kepatuhan politik Teheran. Iran babak belur secara ekonomi, tapi belum cukup babak belur untuk menyerah. Selat Hormuz, entah kebetulan atau tidak, terus menjadi satu-satunya kartu yang menentukan siapa yang mendiktekan syarat perdamaian.