Blokade Selat Hormuz sudah berlangsung hampir tiga bulan, dan kerugiannya mulai sulit diangka secara wajar. Lebih dari 1 miliar barel minyak telah lenyap dari pasar global, dengan tambahan hampir 100 juta barel menguap setiap pekan selama jalur itu tetap terkunci. Bukan angka yang bisa diabaikan.
Sultan Ahmed Al Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menyebutnya sebagai "gangguan pasokan energi paling parah dalam sejarah." Kalimat yang berat, tapi agaknya bukan hiperbola jika melihat datanya. Sebelum pecah konflik, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat selebar 33 kilometer itu setiap harinya.
Iran mulai menutup Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar pada akhir Februari lalu, serangan yang antara lain menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Sejak saat itu, negara-negara Teluk berlomba mencari jalan keluar, harfiah maupun figuratif.
UEA memilih jalur tercepat yang bisa ditempuh: menggandakan kapasitas ekspor minyak lewat pelabuhan Fujairah di Teluk Oman, kawasan yang berada di luar jangkauan blokade. Jalur pipa kedua menuju Fujairah kini sudah hampir 50 persen selesai dibangun, ditargetkan beroperasi penuh pada 2027. Pipa lama yang ada saat ini mentok di kisaran 1,8 juta barel per hari, angka yang jelas tidak dirancang untuk menanggung seluruh arus ekspor dalam kondisi darurat seperti sekarang.
"Terlalu banyak energi dunia masih mengalir melalui terlalu sedikit titik hambatan," kata Al Jaber dalam forum Atlantic Council pekan lalu. Terdengar seperti evaluasi teknis. Konteksnya jelas politis.
Abu Dhabi juga bergerak di jalur diplomatik, bersama negara-negara Teluk lainnya aktif mendesak Washington agar konflik tidak meluas menjadi perang habis-habisan dengan Iran. Lobi ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam dari sekadar harga minyak: soal preseden geopolitik yang bisa bertahan jauh setelah konflik mereda.
Al Jaber tidak segan menyuarakan kekhawatiran itu secara terbuka. "Ini menciptakan preseden berbahaya begitu Anda menerima bahwa satu negara dapat menyandera jalur air terpenting di dunia," ungkapnya. Bagi UEA, ini bukan sekadar soal kerugian ekspor jangka pendek, melainkan tentang siapa yang mengendalikan aturan main perdagangan energi global.
Fitch Ratings tetap mempertahankan peringkat sovereign UEA di level AA-, sinyal bahwa pasar modal masih menilai fondasi fiskal Abu Dhabi cukup kokoh untuk menanggung tekanan berkepanjangan. Bagi investor yang masih hold aset UEA, itu sedikit angin segar.
Washington punya pembacaannya sendiri. Menteri Energi AS Chris Wright menyebut blokade Hormuz sebagai "kartu yang hanya bisa dimainkan sekali," dan ia agaknya benar. Justru tekanan inilah yang mendorong percepatan diversifikasi infrastruktur energi kawasan, sesuatu yang bertahun-tahun hanya berjalan di atas kertas. Setelah konflik mereda, kata Wright, relevansi Hormuz sebagai chokepoint tunggal akan menurun, meski ketergantungan dunia pada produksi energi Teluk tidak akan kemana-mana.
Al Jaber sendiri tidak terlalu optimistis soal pemulihan cepat. Bahkan jika perang berhenti besok, diperlukan setidaknya empat bulan untuk mengembalikan aliran minyak ke 80 persen kapasitas normal. Pasokan penuh baru realistis di kuartal pertama atau kedua 2027, bersamaan dengan target operasional pipa baru UEA. Entah kebetulan atau tidak, dua angka itu menunjuk ke titik waktu yang sama.