Selat Hormuz kembali jadi titik paling berbahaya di muka bumi minggu ini. Bukan sekadar kiasan.
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan gelombang ketiga terhadap Iran pada Sabtu-Minggu (11-12/7/2026), menghantam sejumlah sasaran di Bandar Abbas dan Sirik, setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembak kapal kargo M/V GFS Galaxy berbendera Siprus yang tengah melintas di selat tersebut. Kapal itu mengalami kebakaran hebat dan kerusakan parah di ruang mesin. Satu awak sipil dilaporkan hilang.
Serangan IRGC menggunakan rudal. Bukan tembakan peringatan. Kejadian ini terjadi persis sehari setelah Washington menuntut jaminan publik dari Teheran soal keamanan pelayaran di Hormuz sebagai syarat utama menghentikan siklus konflik dua negara.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan Iran kembali gagal memenuhi nota kesepahaman yang sudah disepakati. "Sebagai tanggapan, Amerika Serikat mengenakan konsekuensi yang berat dengan terus melemahkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal niaga yang melintasi selat secara bebas," demikian pernyataan CENTCOM. Menteri Perang AS Pete Hegseth jauh lebih ringkas. "Iran mengambil keputusan buruk. Kini mereka menerima balasan," tulisnya di X.
Teheran tidak tinggal diam. Iran membalas dengan menyasar aset-aset militer Amerika di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab, memperluas konflik ke seantero kawasan Teluk. IRGC sekaligus mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut, dengan klaim bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas selama "intervensi Amerika" masih berlangsung.
Ini bukan pertengkaran jalur pelayaran biasa. Ada sengketa mendasar soal siapa yang berhak mengatur rute di selat itu. Iran ngotot jalur resmi harus melewati perairan dekat wilayahnya di median selat, dan menjadikannya syarat perdamaian permanen. AS bersikeras membuka jalur lewat pesisir Oman secara sepihak. Kapal GFS Galaxy, ironisnya, sedang melintasi justru jalur Oman yang diusulkan itu ketika diserang.
Konflik meletus persis ketika diplomasi sedang mencoba bernapas. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu Oman Badr Albusaidi di Muscat pada Sabtu, dengan Qatar turut mendampingi sebagai fasilitator. Oman bahkan sempat mengajukan proposal pembukaan kembali kedua jalur pelayaran. Delegasi Iran belum bisa menyetujui, kembali ke Teheran untuk konsultasi. Sebelum jawabannya tiba, peluru sudah lebih dulu berbicara.
Latar belakangnya lebih gelap dari yang terlihat. Kedua negara sejatinya masih berada dalam tenggang waktu dua bulan untuk merundingkan perdamaian permanen yang disepakati di Lucerne, Swiss, 17 Juni 2026. Tapi siklus serangan-balasan terus berulang, dan agaknya momentum Lucerne kini tinggal nama. AS sendiri mengakui sulit berharap kemajuan perundingan selama Hormuz belum dibuka bebas.
Ada dimensi lain yang tidak kalah mengkhawatirkan. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei yang gugur dalam serangan AS-Israel 28 Februari 2026 lalu, menyatakan pembalasan atas kematian ayahnya adalah kehendak bangsa Iran yang harus diwujudkan, khususnya terhadap Trump dan Netanyahu. Jutaan pelayat dalam pemakaman Khamenei senior juga meneriakkan tuntutan yang sama.
Trump tidak meremehkan ancaman itu. Saat menghadiri KTT NATO di Ankara, ia mengganti pesawat kepresidenan ke Air Force One versi lama yang dilengkapi peralatan tempur, dan langsung mengancam balik: jika dirinya sampai terbunuh, Iran akan dihajar ribuan rudal.
20 persen pasokan migas dunia melewati Selat Hormuz. Angka yang tidak main-main, dan yang menanggung beban itu bukan cuma Washington atau Teheran.