RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Hormuz Cuma Pemanasan: Menlu Singapura Peringatkan...

Internasional

Hormuz Cuma Pemanasan: Menlu Singapura Peringatkan Skenario Perang AS-China di Pasifik

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan memperingatkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz hanyalah "simulasi" dibanding potensi konflik AS-China di Pasifik, sekaligus menegaskan Selat Malaka sebagai arteri vital yang harus dijaga bebas dari segala bentuk pungutan dan blokade.

Vivian Balakrishnan tidak berbasa-basi. Menteri Luar Negeri Singapura itu melempar pernyataan yang langsung menohok peserta forum CNBC CONVERGE LIVE di Singapura, Rabu (22/4): apa yang kini terjadi di Selat Hormuz, dengan segala kegarangannya, tidak ada apa-apanya dibanding skenario perang terbuka antara Amerika Serikat dan China di kawasan Pasifik.

"Apa yang Anda lihat di Selat Hormuz akan menjadi simulasi," tegasnya. Dry run. Pemanasan.

Pernyataan itu bukan retorika kosong. Balakrishnan bicara dalam konteks tekanan dari Washington dan Beijing terhadap Singapura agar memilih kubu. Jawaban Negeri Singa sudah bisa ditebak.

"Cara kami melakukan urusan kami adalah dengan menilai apa yang menjadi kepentingan nasional jangka panjang Singapura. Jika saya harus mengatakan tidak kepada Washington atau Beijing atau siapa pun, kami tidak akan goyah," ujar Balakrishnan. Lalu ia menambahkan satu kalimat yang, agaknya, memang dirancang untuk diingat: "Kami akan berguna, tetapi kami tidak akan dimanfaatkan."

Posisi Singapura memang rumit secara struktural. AS adalah investor asing terbesar dengan sekitar 6.000 perusahaan beroperasi di sana. Sebaliknya, China adalah mitra dagang terbesar Singapura, sementara Singapura sendiri tercatat sebagai investor asing terbesar di China. Dua kaki, dua jurang.

Yang membuat pernyataan Balakrishnan relevan bagi kawasan ini bukan cuma soal Pasifik. Soal Selat Malaka. Ia secara eksplisit mengingatkan bahwa Singapura, Malaysia, dan Indonesia punya kepentingan bersama menjaga selat tersebut tetap terbuka tanpa pungutan tol, merujuk pada laporan Iran yang mencoba memungut tarif dari kapal-kapal di Selat Hormuz. Dasar hukumnya jelas: UNCLOS. Tidak ada ruang negosiasi soal ini.

Ancaman terhadap Selat Malaka bukan sekadar teoritis.

Selat itu mengangkut 23,3 juta barel minyak per hari. Sepanjang 2024, tercatat 19.507 tanker curah dan 9.724 tanker raksasa melintas di sana. Sekitar 25-30 persen perdagangan maritim global melewati jalur sepanjang 930 kilometer ini, 80 persen di antaranya berupa impor minyak mentah China. Di titik tersempit, Selat Philip di Singapura, lebarnya cuma 38 kilometer. Sesempit itulah urat nadi ekonomi Asia Timur.

Guru Besar Universitas Pertahanan sekaligus mantan Kepala Staf Angkatan Laut Marsetio mengingatkan bahwa kontingensi di Selat Malaka bisa terpicu kalau konflik di Laut China Selatan atau Selat Taiwan lepas kendali. China mengklaim 90 persen perairan LCS secara sepihak, mengabaikan putusan Mahkamah Arbitrase Internasional. Pertanyaannya: kalau China melancarkan operasi militer ke Taiwan dan AS merespons, siapa yang bisa menjamin Selat Malaka tidak jadi arena?

Skenario blokade, baik oleh China untuk keuntungan taktis maupun oleh AS untuk menekan Beijing, sudah masuk kalkulasi yang serius.

Preseden sudah ada. Iran memblokade Selat Hormuz, menguras stok rudal mahal milik AS dan Israel lewat gelombang drone murah, sambil memainkan proksi di tiga front berbeda. Perang asimetris generasi keempat, dan terbukti efektif. Kalau skenario serupa diaplikasikan di Selat Malaka dengan skala konflik yang jauh lebih besar, angka kerugian ekonomi globalnya sulit dibayangkan. Ingat MV Ever Given yang kandas menyilang di Terusan Suez selama seminggu pada 2021 karena kecelakaan biasa, bukan perang, dan itu sudah cukup untuk mengguncang rantai pasok global.

Bagi investor, ini bukan berita geopolitik pinggiran. Sentimen risk-off yang dipicu eskalasi konflik AS-China di Pasifik akan menekan aset-aset berisiko secara masif. Pelarian ke emas, obligasi safe haven, dan dolar. Meski volatilitas USD sendiri sangat bergantung pada seberapa dalam AS terseret secara langsung. Harga minyak, dengan dua choke point utama dunia berpotensi terganggu sekaligus, bisa meledak ke level yang bikin krisis energi 2022 terasa ringan.

Balakrishnan sendiri menyinggung soal kepercayaan antarnegara yang kian menipis. Ia menyebut kepercayaan bukan nilai abstrak, melainkan instrumen ekonomi konkret yang bisa menurunkan biaya transaksi. Senada dengan itu, Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong, yang memberikan pidato utama di forum yang sama, menegaskan bahwa di dunia yang kian tidak bisa diprediksi, kepercayaan tidak lagi bisa diasumsikan begitu saja.

Kalimat itu terdengar filosofis. Tapi bagi kawasan yang jalur lautnya bisa sewaktu-waktu berubah jadi medan tempur, jujur saja, ini cukup literal.