KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Hidup Sampai 100 Tahun Bukan Soal Gen , Ini yang B...

Internasional

Hidup Sampai 100 Tahun Bukan Soal Gen , Ini yang Benar-Benar Menentukan

Studi terbaru ungkap ciri kepribadian dan kebiasaan harian yang terbukti berkontribusi pada umur panjang berkualitas, dari Zona Biru hingga kesaksian para lansia aktif di Amerika.

Mau Panjang Umur dan Tetap Bahagia? Ini Rahasianya

Sebuah studi yang diterbitkan di International Journal of Applied Positive Psychology membongkar sesuatu yang agaknya sudah lama dicurigai banyak orang, tapi jarang benar-benar diteliti secara serius: kepribadian ternyata ikut menentukan seberapa panjang dan seberapa baik kualitas hidup seseorang di usia lanjut.

Penelitian itu mengamati penduduk di kawasan yang dikenal sebagai Zona Biru, daerah-daerah dengan konsentrasi centenarian tertinggi di dunia. Hasilnya cukup tegas: mereka yang mencapai usia satu abad cenderung memiliki kepribadian lebih terbuka, mudah bergaul, dan mempertahankan lebih banyak hobi aktif sepanjang hidup. Bukan kebetulan. Bukan semata-mata soal gen.

Ilmuwan saraf kognitif Sandra Bond Chapman menyebut bahwa otak manusia jauh lebih plastis dari yang selama ini diasumsikan. "Kita bisa mengambil langkah-langkah sederhana untuk mengoptimalkan kesehatan otak kita dari tahun ke tahun, dan memperpanjang fungsinya hingga usia lanjut," jelasnya. Umur panjang, kalau data ini bisa dipercaya, sebagian besar soal pilihan harian yang terakumulasi.

Kesaksian dari lapangan memperkuat temuan itu. Sue Ross, 74 tahun, warga Arizona, tak berhenti bersepeda bukan karena ia maniak olahraga, melainkan karena komunitasnya. Persahabatan yang muncul dari aktivitas fisik bersama, baginya, jauh lebih berharga dari sekadar membakar kalori. Lain lagi cerita Frederick Ballet, pensiunan dokter bedah yang nekat belajar kitesurfing di usia 50-an. Ia menemukan bahwa mempelajari keterampilan baru menciptakan konsentrasi total yang mempertajam fokus dan menjauhkan pikiran dari kegelisahan.

Banyak dari "rahasia" ini bukan tentang suplemen mahal atau diet ketat. Pakar lingkungan Peter Gros, 70 tahun, cukup berjalan di taman setiap hari. Ed Schuck, 88 tahun, sukarela mengantar sesama lansia ke dokter. "Pepatah 'Anda mendapatkan lebih banyak daripada yang Anda berikan' itu sangat benar," katanya. Callalilly Cousar, yang kini 95 tahun, berpegang pada prinsip sederhana: lakukan semua yang bisa dilakukan, sebanyak mungkin, selagi masih bisa. Murah, tapi tidak gampang.

Ada satu pola yang terus muncul di antara semua kisah ini. Mereka bukan orang-orang yang pasif menunggu hari tua berlalu. Judi Sheppard Missett, 81 tahun, pendiri Jazzercise, masih mengajarkan gerakan tari baru karena ia percaya ritme dan koordinasi fisik merangsang sel-sel otak. Peter Galbraith, 86 tahun, bermain pickleball bukan demi kebugaran semata, tapi karena olahraga kelompok itu memaksanya bertemu orang baru dan tertawa. Keduanya aktif. Keduanya sosial. Bukan kebetulan.

Soal tawa, D'yan Forest, 90 tahun, seorang komedian, masih aktif berkenalan dengan orang-orang baru setiap hari, bahkan lewat aplikasi kencan. Rasa malu, bagi Forest, bukan penghalang, melainkan bahan baku lelucon berikutnya.

Tapi yang paling mengena datang dari Deborah Szekely, kini 103 tahun. Ia tidak menyesali kesalahan masa lalu, bahkan tidak memedulikannya, bukan karena hidupnya tanpa beban, melainkan karena ia memilih untuk tidak membawa beban itu ke hari ini. Entah kebetulan atau tidak, filosofi "hadir di masa kini" ini selaras persis dengan apa yang ditemukan penelitian Zona Biru: keterbukaan mental sebagai prediktor kesehatan di usia senja.

Umur panjang agaknya lebih demokratis dari yang kita kira. Ia tidak diwariskan. Ia dibangun, satu kebiasaan kecil pada satu waktu.