RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Hegseth Berkelit, Gunung Pickaxe Iran Masuk Radar...

Internasional

Hegseth Berkelit, Gunung Pickaxe Iran Masuk Radar Washington

Menhan Pete Hegseth sesumbar soal kemampuan militer AS menembus fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Gunung Pickaxe, sementara para analis mempertanyakan efektivitas serangan ke kompleks yang tertanam ratusan meter di dalam bumi.

Menhan AS Pamer Kemampuan Militer Saat Ditanya Soal Rencana Serangan ke Situs Nuklir Iran

Pete Hegseth tidak mau menjawab langsung, tapi caranya berkelit sudah cukup mengatakan banyak hal. Saat Menteri Pertahanan AS itu ditanya di Capitol Hill apakah militer Amerika mampu menembus fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Gunung Pickaxe, jawabannya terasa seperti ancaman yang dibungkus diplomasi: "Banyak kemampuan kami yang diklasifikasikan, tapi jika ada pihak mana pun di dunia yang bisa menjangkau apa saja... itu adalah militer Amerika Serikat."

Gunung Pickaxe berdekatan dengan fasilitas nuklir Natanz di pedalaman Iran yang berbukit. Intelijen Israel meyakini Iran telah memindahkan sebagian cadangan uranium yang diperkaya, berikut sentrifugal pengayaan canggih, ke dalam perut gunung itu, jauh lebih dalam ketimbang fasilitas yang sudah dihantam AS dalam Operasi Midnight Hammer pada Juni 2025. Sekitar 1.000 pon uranium tingkat tinggi. Angka yang tidak main-main, dan sudah lama jadi obsesi bersama Washington dan Tel Aviv.

Presiden Donald Trump tak ragu menyebut Gunung Pickaxe sebagai target potensial. "Kami akan menghantam area itu dalam waktu dekat, dan sangat menghantamnya," ucapnya Selasa lalu. Agaknya Trump tidak sepenuhnya mau mengakui laporan intelijen Israel soal pemindahan sentrifugal tersebut. Ketika ditanya, jawabannya ringkas: "Kami tidak mengantongi catatannya." Pernyataan yang lebih menimbulkan tanda tanya ketimbang menjawab.

Pakar non-proliferasi Andrea Stricker menegaskan Trump tidak punya pilihan selain bertindak. Jika kompleks Gunung Pickaxe dibiarkan selesai dibangun, Iran berpotensi mengantongi cadangan pengayaan tersembunyi yang nyaris tidak tersentuh, sekaligus akses ke ribuan sentrifugal yang masih tersisa dari fasilitas-fasilitas sebelumnya.

Skeptisisme mengalir deras dari komunitas akademik. James Acton, ko-pemimpin program kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, secara terbuka meragukan hasil yang bisa dicapai dari serangan militer ke fasilitas sedalam itu. Yang paling bisa dilakukan AS, kata Acton, hanyalah meruntuhkan terowongan akses menuju kompleks tersebut. "Itu bukan sebuah game changer," tegasnya. Mahal secara politik, tapi belum tentu menyelesaikan masalah.

Pertanyaannya, lalu apa? Apakah sesumbar Hegseth soal kemampuan militer AS benar-benar ditopang teknologi yang memadai untuk menghancurkan fasilitas yang tertanam ratusan meter di bawah tanah, atau sekadar gertakan dalam permainan tekanan diplomatik yang lebih besar? Jawabannya, kalau data ini bisa dipercaya, masih tersimpan di balik klasifikasi yang sama yang Hegseth jadikan tameng di Capitol Hill.