SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Heatwave 35°C Hajar Swiss, Warga Bern Serbu Sungai...

Internasional

Heatwave 35°C Hajar Swiss, Warga Bern Serbu Sungai Aare untuk Bertahan

Gelombang panas ekstrem melanda Swiss sepekan terakhir dengan suhu di atas 35 derajat celsius, jauh di atas rata-rata musim panas normal. KBRI Bern turut mengeluarkan imbauan resmi bagi WNI yang menetap di negara tersebut.

Gelombang Panas Melanda Swiss, Warga Bersiasat Mencegah Dehidrasi

Suhu 35 derajat celsius mungkin terdengar biasa bagi warga Jakarta, tapi di Bern, angka itu bisa melumpuhkan kota.

Sepanjang pekan terakhir, Swiss dihajar gelombang panas yang membuat suhu hariannya melonjak jauh dari normal. Pada Minggu (28/6/2026), termometer di ibu kota Swiss itu menyentuh lebih dari 35 derajat celsius. Padahal suhu harian yang lazim di musim panas negeri ini hanya sekitar 25 derajat. Selisih 10 derajat. Mayoritas gedung di Swiss memang tidak dirancang dengan sistem pendingin udara, jadi angka itu bukan sekadar panas, ia adalah masalah nyata.

Maka warga punya satu solusi paling praktis: sungai. Menjelang sore, ratusan orang berbondong-bondong menuju Sungai Aare yang membelah kota Bern. Ada yang berenang, ada yang menumpang perahu karet, ada pula yang berdiri di atas jembatan lalu terjun begitu saja ke air. Sebagian membawa tas kedap air berisi pakaian kering yang sekaligus difungsikan sebagai pelampung. Warga lanjut usia memilih cara yang lebih santai, eh, lebih tepatnya, lebih bijak: sekadar berendam atau membasahi badan di tepi sungai dari batu-batu berundak yang disediakan di beberapa titik.

Marco, salah satu warga Bern, bilang ritual sore ke Sungai Aare sudah jadi keharusan selama periode panas ini. "Cuaca sangat panas sehingga saya setiap hari pergi ke Sungai Aare," katanya. Roger, warga lain, bahkan sudah menyiapkan tas kedap air sejak pagi hari sebelum berangkat kerja. "Saya sudah menyiapkan tas kedap air untuk menyimpan pakaian kering sekaligus digunakan sebagai pelampung," ujarnya.

Di luar sungai, ruang-ruang publik kota juga berubah fungsi jadi titik pendinginan dadakan. Di depan Museum Einstein, petugas secara berkala menyalakan penyemprot air dan mengarahkannya ke tubuh pengunjung yang kepanasan. Instalasi air minum yang tersebar di banyak sudut kota pun diserbu warga, bukan hanya untuk minum tapi juga membasahi kepala dan leher. Kota lama yang biasanya tenang itu, sejenak, terasa seperti kolam renang terbuka.

Bagi warga Indonesia di Swiss, situasi ini agaknya lebih mengejutkan dari yang dibayangkan. Dahlia, Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Bern yang sudah tiga tahun menetap di sana, menyebut ini periode terpanas yang ia rasakan selama tinggal di Bern. "Untuk mengatasi udara panas, saya beli kipas angin besar untuk di apartemen karena bangunan di sini rata-rata konsepnya tidak pakai mesin pendingin," ungkap Dahlia. Ia juga memperbanyak minum air lantaran tenggorokan mudah kering, batuk-batuk, dan dehidrasi lebih cepat datang dari yang disangka.

Budiman Wiryakusumah, anggota staf KBRI Bern yang sudah lebih dari 30 tahun bermukim di Swiss, punya perspektif berbeda, lebih panjang, lebih dingin, tapi justru lebih mengkhawatirkan. Baginya, kondisi seperti ini bukan yang pertama. "Sekarang makin sering terjadi panas ekstrem," kata Budiman. Singkat. Dan itu sudah cukup.

KBRI Bern sudah mengeluarkan imbauan resmi lewat Instagram, meminta seluruh WNI di Swiss memperbanyak asupan cairan, menghindari aktivitas fisik berat saat tengah hari, memakai pakaian ringan, dan melindungi diri dari paparan matahari langsung. Kelompok rentan, yakni anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita kondisi kesehatan tertentu, diminta mendapat perhatian ekstra. WNI juga dianjurkan memantau pembaruan cuaca dari MeteoSwiss, layanan meteorologi resmi Swiss.

Swiss yang dikenal sejuk kini berhadapan dengan kenyataan pahit: "cuaca normal" mungkin bukan istilah yang relevan lagi. Pertanyaannya, kalau ini bukan anomali melainkan tren, kota-kota Eropa yang dibangun tanpa AC itu siap menghadapi musim panas berikutnya?