SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Hayes Yakin Bitcoin Balik ke $126.000, Pasar Predi...

Finansial

Hayes Yakin Bitcoin Balik ke $126.000, Pasar Prediksi Pilih Tunggu Bukti

Arthur Hayes menyebut kembalinya Bitcoin ke rekor tertinggi Oktober 2025 sebagai 'kesimpulan yang sudah pasti', sementara data pasar prediksi global menunjukkan optimisme yang jauh lebih hati-hati.

Perang Iran dan Demam AI Bisa Dorong Bitcoin Tembus Rp 2,2 Miliar

Dua narasi besar soal Bitcoin tarik-menarik pekan ini, dan keduanya punya argumen yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Arthur Hayes, Chief Investment Officer Maelstrom sekaligus salah satu pendiri BitMEX, menulis esai di Substack dengan nada yang cukup berani: Bitcoin akan kembali ke rekor Oktober 2025 di level US$126.000, atau sekitar Rp2,2 miliar. Bukan sekadar prediksi, katanya, tapi "kesimpulan yang sudah pasti." Dari posisi Bitcoin saat ini yang diperdagangkan di kisaran US$80.000-an, itu berarti potensi kenaikan sekitar 55%.

Argumen Hayes bertumpu pada dua katalis besar yang sedang bergerak bersamaan. Pertama, perlombaan pengembangan kecerdasan buatan antara Amerika Serikat dan China yang memaksa kedua negara melonggarkan kondisi keuangan masing-masing. Federal Reserve dan Bank Sentral Rakyat China kini mengucurkan kredit untuk mendanai infrastruktur AI, sebuah proses yang Hayes yakini akan menambah jumlah uang fiat beredar secara masif. Kedua, konflik Iran yang mendorong negara-negara berdaulat membangun kembali infrastruktur domestik dan menimbun komoditas, alih-alih menyimpan aset dalam denominasi dolar. "Perang bersifat inflasi, pengembangan AI bersifat inflasi, dan kemauan politik untuk mencetak uang guna membiayai keduanya adalah yang menciptakan lingkungan bagi Bitcoin untuk berkinerja lebih baik," tulis Hayes.

US$90.000 Hayes tandai sebagai level krusial. Di titik itu, para penulis opsi call dengan harga strike lebih tinggi akan terpaksa membeli Bitcoin untuk menutup posisi mereka, sebuah dinamika yang secara mekanis mempercepat reli. Hayes mengaku sudah memasang risiko maksimum untuk dana kelolaannya, dengan HYPE, ZEC, dan NEAR sebagai posisi altcoin utama.

Data dari pasar prediksi global menggambarkan keyakinan yang jauh lebih rendah. Per 12 Mei 2026, volume total untuk taruhan target US$150.000 di Polymarket sudah menyentuh US$18,3 juta. Tapi probabilitas Bitcoin mencapai US$150.000 sebelum 30 Juni 2026 hanya dipasang di angka 1%. Untuk akhir tahun 2026, peluangnya naik ke 11%. Platform Opinion menunjukkan angka serupa: 2% untuk Juni, 10,4% untuk Desember.

Kalshi menawarkan gambaran yang sedikit berbeda. Para trader di sana hampir terpecah rata soal apakah Bitcoin akan menembus US$100.000 sebelum tutup tahun 2026, dengan 47% meyakini hal itu akan terjadi. Sinyal yang agaknya lebih bullish dibanding platform lain, meski target US$150.000 tetap dilihat hanya punya peluang 9%. Volume yang mengalir ke pasar prediksi Bitcoin di berbagai platform sudah melampaui US$80 juta, dan kebijaksanaan kolektifnya jelas: US$100.000 adalah medan pertempuran sesungguhnya, bukan US$150.000.

Ada satu dinamika teknikal yang patut dicermati. Indeks Dolar AS (DXY) sedang membentuk pola double bottom dan bergerak menuju level 101. Secara historis, pergerakan ini lazimnya memberi tekanan pada harga Bitcoin. Selama lebih dari satu dekade, DXY dan Bitcoin bergerak berlawanan arah, dengan fase ekspansi Bitcoin pada 2013, 2017, dan 2020 terjadi justru saat DXY melemah di bawah 90.

Tapi data 2026 menggerus sebagian dari keyakinan itu. Arus masuk ke ETF Bitcoin spot mencapai US$1,97 miliar pada April 2026, bulan terkuat sepanjang tahun ini. Dengan BlackRock dan penerbit besar lainnya terus menyerap suplai, permintaan institusional kini memengaruhi harga Bitcoin secara lebih mandiri, terlepas dari arah dolar. Beberapa pekan ke depan akan menjadi uji nyata: jika DXY menembus 101 dan Bitcoin tetap bertahan atau bahkan reli, argumen soal "decoupling" makin sulit dibantah.

Hayes dan investor veteran Davinci Jeremie kompak menyebut penurunan ke bawah US$80.000 sebagai kesempatan beli, bukan sinyal puncak. Jeremie, yang pernah merekomendasikan Bitcoin saat masih diperdagangkan di US$116 pada Mei 2013 dan menyaksikan aset itu melesat lebih dari 68.000% sejak saat itu, menyebut kondisi saat ini sebagai shakeout paksa akibat tekanan makro, bukan pembalikan tren.

Colin Basco, kuantitatif strategi Deribit Prime Trading, menambahkan perspektif yang lebih terukur. "Jika US$80K berubah dari resistance menjadi support, maka sentimen bullish akan jadi jauh lebih kuat," ujarnya, sembari mengingatkan bahwa arus ETF perlu terus menyerap suplai secara konsisten, bukan hanya muncul sesaat saat harga koreksi.

Pasar kripto 2026, kalau data ini bisa dipercaya, bukan lagi semata-mata tentang Bitcoin melawan dolar atau sentimen ritel. Ada lapisan baru yang ikut menentukan arah: arus institusional, taruhan derivatif senilai puluhan juta dolar, hingga anggaran belanja AI negara-negara besar. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan? Hayes boleh saja yakin sepenuhnya. Pasar prediksi, dengan total taruhan lebih dari US$80 juta, memilih menunggu buktinya dulu.