JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Hari ke-170 Perang Iran: Klaim Trump Tak Berjejak...

Internasional

Hari ke-170 Perang Iran: Klaim Trump Tak Berjejak di Medan Perang

Perang AS-Iran memasuki hari ke-170 tanpa tanda-tanda resolusi, sementara Senator Demokrat Jon Ossoff menuding Trump dan Hegseth berbohong kepada publik soal progres militer. Di sisi lain, Iran justru tampil percaya diri menghadapi tekanan ekonomi.

Gas prices are already rising across the country thanks to Trump's reckless war in the Middle East. The American people want affordability, not new forever wars overseas.

Perang antara Amerika Serikat dan Iran kini telah memasuki hari ke-170, jauh melampaui prediksi awal pemerintahan Trump yang sempat berbicara soal kemenangan di hari keempat. Kenyataan di lapangan, agaknya, tidak secermat klaim yang disampaikan dari podium Washington.

Senator Demokrat Georgia, Jon Ossoff, membawa pertanyaan itu langsung ke hadapan konstituen dalam sebuah kampanye di Atlanta pekan ini. Tudingannya tidak main-main: Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dianggap berbohong kepada rakyat Amerika untuk menyeret negara itu masuk ke dalam perang. Ossoff mengurai kronologi klaim yang saling bertentangan. "Tahun lalu mereka mengklaim program nuklir Iran telah dihancurkan, dan tahun ini mereka mengatakan program itu ancaman nuklir yang segera terjadi. Keduanya adalah kebohongan," tegasnya.

Rekam jejak pernyataan Hegseth tidak kalah mencolok. Pada hari kesembilan perang, Menteri Pertahanan itu menjamin Iran akan menyerah. Lima hari kemudian, maksudnya, di hari ke-14, ia mengklaim militer Iran sudah hancur. Pada hari ke-40, ia bilang seluruh tujuan perang telah tercapai. Kini, setelah enam bulan berlalu, tidak satu pun dari klaim itu bisa diverifikasi di medan perang.

Ossoff tidak berhenti di situ. Ia juga menyoroti Trump yang di hari pertama perang menyebut operasi berjalan "lebih cepat dari jadwal". Empat hari berselang, kata "kemenangan" sudah meluncur dari mulut presiden. Enam bulan kemudian, perang masih berlangsung dan rakyat Amerika mulai merasakannya langsung di dompet mereka.

Harga bensin reguler di Amerika Serikat sudah menembus rata-rata 4,07 dolar AS per galon, naik tajam dari 3,14 dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Di Georgia, kenaikannya hampir 90 sen per galon, dari 2,91 menjadi 3,80 dolar. Bukan angka abstrak. Bagi pemilih kelas menengah, ini terasa di setiap kali mengisi tangki.

"Tidak ada yang lebih menjijikkan daripada membawa sebuah bangsa ke dalam perang dengan kebohongan, menganggap warga negara sebagai orang bodoh, dan memperlakukan mereka yang mengabdi seperti bidak dalam sebuah permainan," ujar Ossoff, dalam salah satu serangan paling tajam yang dilontarkan senator kepada pemerintahan petahana dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara perdebatan politik memanas di Washington dan Atlanta, Iran justru tampil dalam posisi yang tidak terduga: percaya diri. Setelah berhasil bertahan dari tekanan militer AS selama lebih dari lima bulan, Teheran kini menyatakan siap menghadapi apa yang mereka sebut sebagai "perang ekonomi". Narasi resmi Teheran memang sudah bergeser sejak awal konflik, dari defensif menjadi semakin asertif.

Bagi investor, ini bukan sekadar berita geopolitik. Kenaikan harga energi global yang dipicu ketegangan di kawasan Teluk sudah menghajar biaya operasional sektor-sektor padat energi. Entah kebetulan atau tidak, sejumlah emiten di sektor perkapalan dan komoditas energi justru membukukan kinerja yang lebih solid di tengah gejolak ini.

Pertanyaan yang belum terjawab: jika di hari ke-40 perang sudah "selesai", apa yang sebenarnya terjadi di hari ke-170?