Sejak akhir Maret, peternak ayam petelur rakyat di Jawa Timur hidup di zona merah. Harga telur di kandang bertahan di kisaran Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per kilogram, jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional sebesar Rp 26.500 per kg. Selisihnya bukan sedikit.
Di Kabupaten Blitar, salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia, kondisinya sudah menyentuh titik yang memaksa banyak peternak memilih mengosongkan kandang ketimbang terus merugi. Yang bertahan pun harus berputar otak. Senin (29/6/2026), 15 pikap berisi telur berjejer di depan Alun-Alun Kanigoro dan di pinggir jalan, menjajakan langsung ke masyarakat tanpa perantara. Lima ton habis hari itu juga.
"Tengkulak ambilnya terlalu murah. Minggu lalu mereka hanya beli Rp 15.800-Rp 16.000 per kg, padahal harga eceran di pasar masih Rp 24.000-Rp 25.000 per kg. Marginnya terlalu jauh," kata Suyanto, peternak di Gandusari, Blitar. Ia menjual langsung ke konsumen seharga Rp 20.000 per kg, harga yang menurutnya cukup adil untuk kedua pihak. Pembelinya beragam, dari ASN sampai warga biasa.
Gerakan serupa menyebar ke Kediri, Malang, dan Tulungagung. Ini bukan aksi spontan. Awal Juni, peternak dari ketiga daerah itu sempat membagikan sekitar satu juta telur gratis sebagai bentuk protes. Hasilnya? Harga tidak bergerak.
Persoalannya berlapis. Produksi meledak karena penambahan populasi ayam secara agresif oleh peternak besar, bisa mencapai 50 persen menurut Suyanto, sementara serapan pasar justru lesu. Harga pakan pun tidak ikut turun, malah sebaliknya. Konsentrat naik dari Rp 370.000 menjadi Rp 410.000 per zak 50 kg, jagung merayap dari Rp 6.200 menjadi Rp 6.600 per kg, bekatul dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500 per kg. "Harga pakan konsentrat sudah naik enam kali sejak mulai ada perang Amerika-Israel melawan Iran," kata Suyanto.
Kondisi serupa ternyata menggerus peternak broiler juga. Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia) Jawa Tengah mencatat harga daging ayam sudah di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) sejak Mei. Bulan itu harga masih di Rp 16.000-Rp 18.000 per kg, lalu amblas ke Rp 13.000-Rp 15.000 per kg di Juni, padahal HPP dipatok di kisaran Rp 19.500-Rp 21.000 per kg. "Sudah tidak sehat. Sudah tahu harganya jelek pun banyak teman-teman yang menambah populasi," kata Ketua Pinsar Jateng Parjuni, agaknya frustrasi melihat peternak terus bersaing menambah pasokan di tengah permintaan yang stagnan.
Widodo Setyohadi, peternak di Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Blitar, memastikan ini bukan sekadar fluktuasi musiman. Harga Rp 15.000 per kg adalah yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Catatan historis memang ada yang lebih kelam, Rp 13.000 per kg pada 2017, dan saat itu gelombang pengosong kandang juga terjadi. "Sekarang sudah mulai banyak yang mengosongkan kandang. Soalnya tidak bisa menutupi buat pakan, jadi diafkir dalam sebulan terakhir," tuturnya.
Ratusan peternak yang tergabung dalam Paguyuban Ternak Rakyat Indonesia (Paterain) turun ke jalan pagi itu, menggelar aksi damai di depan gedung DPRD Jawa Timur di Surabaya. Ketua Paterain Jatim Nur Muhammad Ali mendesak pemerintah menegakkan HAP secara nyata melalui Satgas Pangan Polri, merujuk surat edaran Bapanas Nomor 285/TS.02.02/K/2026 tertanggal 9 Juni 2026. Paterain juga menuntut transparansi harga bahan baku pakan impor dan meminta agar budidaya ayam ras petelur dimasukkan ke daftar negatif investasi, merespons surat Kementerian Pertanian Nomor B-132/PP.220.M/06/2026 tertanggal 9 Juni 2026. Intinya satu: batasi ekspansi korporasi besar sebelum peternak rakyat benar-benar habis.
Bupati Blitar Rijanto turun langsung mendampingi peternak di Alun-Alun Kanigoro dan mengajak seluruh ASN di lingkungannya membeli telur langsung dari kandang. Simbolis, memang. Tapi setidaknya ada pejabat daerah yang tidak sekadar menonton. Masalahnya, daya beli ASN Blitar tentu tak akan cukup menyerap kelebihan produksi yang sifatnya struktural ini.
Selama korporasi besar bebas ekspansi dan harga pakan terus terkerek komponen impor yang tergerus nilai tukar, peternak kecil akan terus bermain di lapangan miring. Penjualan langsung ke konsumen bisa jadi pegangan sementara. Tapi bukan jawaban.