MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harga Pupuk Subsidi Turun 20%, tapi Daerah Belum T...

Ekonomi

Harga Pupuk Subsidi Turun 20%, tapi Daerah Belum Tentu Tahu

Mentan Amran klaim harga pupuk subsidi turun 20 persen dan stok Indonesia cukup sampai bisa diekspor, tapi di lapangan, dinas pertanian daerah seperti Magetan mengaku belum terima informasi apa-apa.

Dinas Pertanian Magetan Belum Tahu soal Diskon Pupuk Subsidi 20 Persen

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bicara lantang di depan awak media di Gudang Bulog Gresik, Rabu (13/5/2026): harga pupuk subsidi turun 20 persen, dan stoknya bukan sekadar aman, tapi sampai diekspor ke Australia dan India.

"Tidak pernah terjadi selama Republik ini berdiri," ujar Amran, menegaskan penurunan harga pupuk sebagai pencapaian yang ia atribusikan langsung ke kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Klaim yang besar. Dan agaknya belum turun ke bawah.

Di Magetan, Jawa Timur, pengawas pupuk Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Edy Utomo mengaku tidak tahu menahu soal diskon tersebut. "Kalau kita malah saat ini belum ada informasi diskon. Coba konfirmasinya nanti ke Pupuk Indonesia," ungkap Edy saat ditemui di kantornya hari yang sama.

Bukan hal kecil. Magetan adalah salah satu kabupaten pertanian aktif di Jawa Timur, dengan alokasi urea tahun ini 22.784 ton dan NPK 22.347 ton. Kalau informasi soal penurunan harga 20 persen saja belum sampai ke dinas kabupaten, pertanyaannya: kebijakan ini berlaku di mana?

Edy menduga diskon itu mungkin bersifat regional atau berbentuk promo terbatas dari Pupuk Indonesia di wilayah tertentu. "Mungkin ada kebijakan di daerah tertentu, mungkin di situ Pupuk Indonesia lagi melakukan promo pada saat tertentu," jelasnya. Kedengarannya lebih seperti menduga-duga ketimbang mengonfirmasi.

Di Magetan, harga urea di kios resmi sekitar Rp 90.000 per sak, sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Tapi yang sampai ke tangan petani bisa melar hingga Rp 110.000 per sak, karena ada biaya angkut dan distribusi yang ditanggung kelompok tani. Selisih Rp 20.000 per sak. Buat petani kecil, itu bukan angka receh.

Edy bilang pihaknya terus memantau agar harga tetap dalam batas kesepakatan kelompok tani. Bisa jadi itu yang paling realistis bisa dilakukan di level kabupaten, mengingat mereka sendiri tidak punya kendali atas rantai harga di atasnya.

Soal pasokan, distribusi pupuk di Magetan hingga musim tanam kedua 2026 diklaim masih berjalan. Realisasi penyerapan urea hingga April baru menyentuh 6.730 ton dari alokasi 22.784 ton, sekitar 30 persen. NPK tersalurkan 5.588 ton dari 22.347 ton, alias 25 persen. Pupuk organik terserap 2.707 ton dari alokasi 6.327 ton. Ruang yang belum terserap masih lebar, tapi Edy menyebut ini masih dalam koridor normal karena musim tanam kedua baru berjalan.

Kembali ke klaim Amran: Indonesia mengekspor pupuk ke Australia dan merespons permintaan 500.000 ton urea dari India. Posisi yang, kalau data ini bisa dipercaya, memang terdengar solid. Tapi gap antara narasi ketahanan nasional di podium menteri dan ketidaktahuan dinas kabupaten di lapangan, entah kebetulan atau tidak, selalu muncul setiap kali kebijakan besar diumumkan dari atas.

Pertanyaan yang lebih relevan buat petani: kapan diskon 20 persen itu benar-benar terasa di karung pupuk yang mereka beli?