Harga urea global sudah menembus 850 dolar AS per ton pada April 2026, melonjak 80 persen hanya dalam dua bulan. Level tertinggi sejak April 2022. Bank Dunia menyebut ini baru permulaan.
Lembaga Washington DC itu merilis laporan bertajuk "Fertilizer Prices Surge as Strait of Hormuz Disruptions Tighten Supplies" pada 14 Mei 2026, memperkirakan Indeks Harga Pupuk dunia akan melonjak lebih dari 30 persen sepanjang tahun ini. Dari indeks 138,7 pada 2025, angkanya diproyeksikan menembus 181,3 pada 2026 sebelum kembali melandai ke 152,1 pada 2027. Untuk urea saja, kenaikannya bisa mencapai 60 persen secara tahunan.
Biang keroknya jelas: penutupan Selat Hormuz. Jalur laut Teluk Persia itu menyumbang hampir seperempat dari ekspor urea global, dan ketegangan di sana bukan sekadar mengganggu arus pengiriman, ah, lupakan em dash, ia merembet langsung ke kapasitas produksi. Iran menghentikan produksi amonia akibat konflik. Qatar menangguhkan produksi urea, amonia, dan sulfur menyusul kerusakan fasilitas utama. India ikut memangkas output lantaran pasokan gas alam mengering. Satu per satu, sumber pasokan global runtuh bersamaan.
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga melampaui soal pupuk. Pada 14 Mei, sebuah kapal tanker disita dan diarahkan ke wilayah Iran, posisinya sekitar 38 mil laut di utara Kota Fujairah, Uni Emirat Arab. Bersamaan dengan itu, kapal kargo berbendera India dilaporkan tenggelam setelah serangan di perairan Oman, seluruh awak berhasil diselamatkan otoritas Oman tanpa korban luka. Bukan cuma komoditas pertanian yang terancam: Eropa kini berhadapan dengan potensi kekurangan obat-obatan. Delapan puluh persen kebutuhan bahan baku farmasi benua itu bergantung pada China dan India, yang rantai distribusinya ikut babak belur oleh volatilitas harga energi dan pelambatan jalur penerbangan kawasan Timur Tengah. Bahan baku seperti etilena, urea, dan parafin banyak yang bersumber langsung dari negara-negara Teluk.
Satu nama yang bikin pasar tambah cemas: China. Beijing menghentikan ekspor beberapa jenis pupuk sejak Maret 2026 dengan dalih perlindungan pasokan domestik, padahal pada 2025 negeri itu menyumbang sekitar 25 persen produksi pupuk global dengan nilai ekspor lebih dari 13 miliar dolar AS. Mantan Presiden Bank Dunia David Malpass tidak menyembunyikan frustrasinya. Dalam World Business Report BBC pada 13 Mei, ia tegas berkata, "Mereka memiliki cadangan bahan makanan dan pupuk terbesar di dunia. Mereka bisa berhenti menambah cadangan mereka." Juru Bicara Kedutaan Besar China di Washington DC Liu Pengyu membalas dengan menyatakan komitmen Beijing terhadap stabilitas pasar global, sembari menolak tuduhan bahwa China adalah biang kerusakan rantai pasokan ini.
Mengapa guncangan kali ini tidak separah 2021-2022? Ekonom Bank Dunia John Baffes punya jawabannya. Kala invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar, harga pupuk dunia meledak lebih dari 50 persen bahkan 100 persen. Kali ini ada tiga bantalan: petani di belahan bumi utara sudah mengamankan sebagian besar pasokan sebelum krisis meluas, harga gas alam naik lebih moderat, dan arus perdagangan mulai dialihkan melalui koridor darat melewati Selat Hormuz. Pasar, agaknya, sudah sedikit lebih siap dari sebelumnya.
"Lebih siap" tidak berarti aman. Baffes mengingatkan, jika gangguan pengiriman dan produksi bertahan hingga triwulan III-2026, risiko kenaikan harga lebih lanjut tetap terbuka lebar.
Sementara dunia waswas, Indonesia justru bergerak ke arah yang berlawanan. Pemerintah mempertahankan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi yang sudah diturunkan 20 persen sejak Oktober 2025, termasuk urea dari Rp 2.250 menjadi Rp 1.800 per kilogram. Tanpa tambahan beban subsidi ke APBN, kata pemerintah. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, gejolak Timur Tengah tidak akan diterjemahkan menjadi kenaikan harga pupuk bagi petani Indonesia.
Lebih jauh dari itu, Indonesia justru tengah agresif mengekspor. PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur melepas 47.250 ton urea senilai Rp 600 miliar ke Australia pada 14 Mei, sebagai tahap awal dari komitmen pembelian 250.000 ton yang bisa ditingkatkan hingga 500.000 ton dengan total nilai sekitar Rp 7 triliun. Skema G2G, pemerintah ke pemerintah. Amran menyebut Australia hanyalah awal dari ambisi yang lebih luas, yakni India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh.
Rp 7 triliun. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Sebetulnya, ekspor pupuk bukan barang baru bagi Indonesia. Data Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor pupuk Indonesia mencapai 656,3 juta dolar AS pada 2023, naik-turun ke 574 juta dolar AS pada 2024, lalu meledak ke 858,8 juta dolar AS pada 2025. Khusus ke Australia, angkanya juga tidak kecil: 90,7 juta dolar AS pada 2023, melonjak ke 202,8 juta dolar AS pada 2024, lalu terkoreksi ke 153,1 juta dolar AS pada 2025. Pada Januari-Maret 2026 saja, ekspor ke Australia sudah menyentuh 45,8 juta dolar AS.
Patut dicermati juga sisi impornya. Indonesia masih menyedot pupuk dari luar dalam jumlah besar: 2,03 miliar dolar AS pada 2023, 1,98 miliar dolar AS pada 2024, dan 2,51 miliar dolar AS pada 2025. Rusia, Belarus, dan Uzbekistan menjadi pemasok utama. Kalau tekanan dari Timur Tengah terus berlanjut melewati pertengahan tahun, pertanyaan yang wajar muncul: seberapa lama ketahanan pasokan domestik bisa menopang agresivitas ekspor ini?