Angka 130,7 poin. Itulah level yang dicatat Indeks Harga Pangan FAO pada April 2026, naik 1,6% dari bulan sebelumnya, sekaligus yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Bukan sekadar statistik bulanan biasa.
Ini sudah bulan ketiga berturut-turut indeks itu naik. Biang keroknya cukup jelas: Selat Hormuz.
Hampir dua bulan, jalur pelayaran strategis di Teluk Persia itu praktis lumpuh akibat eskalasi konflik Iran. Dampaknya menjalar ke mana-mana. Dari pasar minyak mentah, pupuk, sampai minyak nabati yang kita tuang ke wajan setiap pagi. Indeks minyak nabati FAO melonjak 5,9% sepanjang April ke posisi 193,9 poin, tertinggi sejak Juli 2022. Minyak sawit menguat lima bulan beruntun, dihajar permintaan biofuel yang kian deras plus kekhawatiran penurunan produksi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Minyak kedelai, rapeseed, dan bunga matahari? Ikut terkerek oleh nafsu biofuel Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Kepala Ekonom FAO Máximo Torero menyebut lonjakan harga minyak nabati sebagai pendorong utama kenaikan indeks. Biaya energi global yang tinggi, jelasnya, mendorong permintaan biofuel dari tanaman penghasil minyak, yang pada gilirannya menekan pasokan pangan.
Komoditas lain juga bergerak liar. Indeks harga daging mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di 129,4 poin, naik 1,2% secara bulanan, dipicu berkurangnya sapi siap potong di Brasil. Serealia naik lebih moderat, 0,8%, ke 111,3 poin, dibantu stok yang masih cukup dari musim panen sebelumnya. Tidak semua komponen tertekan: harga gula amblas 4,7% ke 88,5 poin karena ekspektasi panen raya di Brasil, China, dan Thailand. Susu melemah 1,1% ke 119,6 poin akibat melimpahnya produksi di Uni Eropa dan Oseania.
Tapi tekanan sesungguhnya agaknya belum selesai.
Blokade Selat Hormuz memutus sebagian besar rantai pasok pupuk global. Dan tidak ada yang merasakan ini lebih keras dari Afrika. Lahan pertanian terbengkalai, antrean di pompa bahan bakar mengular, penerbangan dibatalkan. Willy Nyamite, Duta Besar Burundi untuk Uni Afrika sekaligus Ketua Komite Duta Besar saat ini, bicara terus terang: "Uni Afrika memantau situasi di sekitar Selat Hormuz dengan sangat cermat, karena hal ini berdampak pada sejumlah barang strategis yang sangat penting bagi perekonomian Afrika."
Krisis pupuk. Ancaman laten yang bisa mengubah tekanan harga jangka pendek menjadi bencana struktural. Kalau musim tanam berikutnya dimulai tanpa pupuk yang cukup, soal harga pangan sekarang bisa terasa ringan dibanding yang akan datang.
FAO memperingatkan tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat, terutama seiring biaya pupuk dan energi yang masih tinggi. Bagi investor di sektor agribisnis dan fast-moving consumer goods, ini sinyal yang tidak bisa diabaikan: margin produsen makanan berbasis minyak nabati berpotensi tergerus lebih jauh, sementara emiten dengan eksposur ke komoditas sawit bisa jadi mendapat angin segar.