SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Harga Minyak Kembali Panas, Negosiasi AS-Iran Jala...

Finansial

Harga Minyak Kembali Panas, Negosiasi AS-Iran Jalan di Tempat

Minyak mentah Brent menembus 104,80 dollar AS per barel pada perdagangan Asia Jumat pagi, dipicu keraguan pasar atas prospek kesepakatan nuklir AS-Iran yang masih jauh dari kata final.

Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Ragukan Kesepakatan AS-Iran

Optimisme itu cuma bertahan sehari. Setelah minyak mentah terkoreksi hampir 2 persen pada sesi sebelumnya karena pasar sempat antusias dengan sinyal kemajuan diplomatik Washington-Teheran, harga berbalik naik tajam begitu realita negosiasi yang alot mulai menghantam sentimen.

Pada perdagangan Asia Jumat (22/5/2026), minyak mentah Brent tercatat di level 104,80 dollar AS per barel, naik 2,13 persen. WTI mengikuti dengan kenaikan 1,70 persen ke posisi 97,99 dollar AS per barel. Brent sudah melewati angka psikologis 100 dollar, dan agaknya pasar belum melihat alasan kuat untuk menariknya turun.

Pemicunya sederhana: kebuntuan. Seorang sumber senior Iran menegaskan kepada Reuters bahwa belum ada kesepakatan yang tercapai, meski kedua pihak disebut berhasil mempersempit sejumlah perbedaan. Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS, mengakui ada beberapa tanda positif sekaligus menegaskan bahwa setiap upaya Iran membatasi akses di Selat Hormuz tidak bisa ditoleransi. Dua pernyataan yang saling bertolak belakang, dan pasar energi membaca itu sebagai jalan buntu.

Selat Hormuz memang jadi titik panas yang sesungguhnya. Bukan sekadar latar geopolitik, jalur ini adalah urat nadi distribusi minyak Teluk, dan gangguan sekecil apa pun di sana bisa langsung memukul harga global. CEO ADNOC Sultan Al Jaber memperingatkan bahwa arus pengiriman minyak melalui selat tersebut baru bisa normal kembali pada kuartal I atau II 2027, bahkan jika konflik berhenti hari ini juga. Bukan soal minggu atau bulan, melainkan lebih dari setahun.

Uni Emirat Arab, yang kini sudah keluar dari OPEC+, merespons dengan bergerak agresif membangun jaringan pipa baru untuk mengurangi ketergantungan pada Hormuz. Pragmatis. Tapi butuh waktu untuk benar-benar mengubah peta distribusi minyak kawasan.

Kondisi pasar fisik makin memperkeruh suasana. Persediaan minyak global dilaporkan turun dalam laju tercepat yang pernah tercatat. Biaya energi mulai merambat ke sektor transportasi dan manufaktur di sejumlah negara, dan tekanan inflasi dari harga minyak tinggi bukan lagi ancaman di atas kertas, ia sudah terasa di ekonomi riil. Pertanyaannya, sampai kapan?

Buat Indonesia sebagai importir energi, situasi ini jelas tidak nyaman. Harga minyak yang bertengger tinggi berarti beban impor membengkak dan tekanan inflasi domestik ikut meningkat. Industri yang bergantung pada bahan bakar, dari transportasi hingga pabrik, sudah mulai merasakan dampaknya.

Selama enam minggu gencatan senjata berlangsung, belum satu pun terobosan permanen berhasil dicapai. Pasar sudah hafal polanya: harga naik ketika harapan memudar, turun ketika ada klaim kemajuan, lalu terkerek lagi ketika klaim itu tidak terbukti. Volatilitas bukan anomali di sini, itu justru kondisi normalnya. Selama Selat Hormuz masih jadi variabel terbesar yang belum terselesaikan, ekspektasi stabilitas harga dalam waktu dekat, kalau data ini bisa dipercaya, rasanya terlalu optimistis.