JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Harga Minyak Amblas Usai Trump Tunda Serangan ke I...

Internasional

Harga Minyak Amblas Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

Harga minyak mentah berbalik turun setelah Trump mengumumkan penundaan serangan militer ke Iran, menyusul lobi intensif dari pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan UEA yang meyakini kesepakatan damai hampir tercapai.

Harga Minyak Turun Usai Trump Batalkan Serangan ke Iran - Energi

Harga minyak rontok setelah Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer ke Iran, membalikkan reli yang sudah mendorong harga melonjak 3,3% pada sesi Senin.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli amblas ke bawah US$103 per barel. Brent, yang sempat ditutup di atas US$112 pada Senin, mulai kehilangan tenaga. Bukan koreksi kecil, mengingat pasar sudah memasukkan skenario eskalasi penuh ke dalam harga.

Trump mengumumkan keputusannya lewat unggahan media sosial, menyebut bahwa pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab secara langsung meminta penundaan karena "negosiasi serius sedang berlangsung." Beberapa negara kawasan bahkan mengklaim kesepakatan untuk mengakhiri konflik sepenuhnya sudah hampir tercapai. Klaim yang, jujur saja, masih perlu dibuktikan.

Selat Hormuz jadi variabel yang paling bikin pasar tegang beberapa hari terakhir. Jalur ini adalah urat nadi ekspor energi Teluk Persia. Ancaman penutupannya, bahkan yang parsial sekalipun, sudah cukup untuk mengangkat harga ke level yang membuat importir Asia berkeringat dingin. Skenario penutupan hampir total yang sempat beredar agaknya menjadi salah satu alasan mengapa harga bergerak seliar itu dalam dua sesi terakhir.

Pasar tahu betul rekam jejak Trump dalam isu ini. Ancaman aksi militer terhadap Iran bukan pertama kali dilontarkan, dan Teheran pun tidak segera mengkonfirmasi adanya pembicaraan yang diperbarui. Volatilitas ini, entah kebetulan atau tidak, terus memberikan ruang bagi trader untuk berspekulasi di kedua arah.

Dampaknya merambat ke pasar mata uang domestik. Pada pagi hari, rupiah sempat melemah 17 poin ke Rp17.685 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.668. Lukman Leong, analis mata uang Doo Financial Futures, menyebut meredanya kekhawatiran pasar pasca-pengumuman Trump membuka ruang penguatan rupiah terhadap dolar.

Level Rp17.685 sendiri sudah mencerminkan tekanan yang terakumulasi selama sentimen risiko global memburuk. Kalau tensi Iran benar-benar mereda dan negosiasi berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah punya ruang untuk pulih lebih jauh.

Pertanyaannya sekarang: seberapa jauh pasar mau percaya bahwa kali ini kesepakatan benar-benar akan terwujud?