JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harga Kemasan Naik, Industri Minuman Lokal Pacu Ef...

Ekonomi

Harga Kemasan Naik, Industri Minuman Lokal Pacu Efisiensi

Kenaikan harga bahan baku kemasan seperti gelas plastik, dus, dan sedotan menekan biaya produksi industri minuman. PT Tirta Rifana Gowa respons dengan efisiensi operasional dan pendekatan ramah lingkungan.

Plastic Packaging For Food and Beverage Market | Global Market Analysis Report - 2035

Gelas plastik, tutup kemasan, dus, sedotan. Komponen yang terlihat sepele ini ternyata sedang jadi urusan serius bagi pelaku industri minuman, setelah harganya merangkak naik bertahap dalam beberapa bulan terakhir. Bagi yang bermain di segmen sensitif harga, tekanan ini bukan sesuatu yang bisa ditunggu reda sendiri.

Bagi PT Tirta Rifana Gowa, kenaikan ini bukan sekadar angka di laporan keuangan. Direkturnya, Dr. Hj. Nirwana, S.Pd., M.Pd., mengakui hampir seluruh komponen pendukung produksi terdampak, dan efeknya langsung terasa di biaya per unit. "Bahan baku seperti gelas plastik, tutup kemasan, dus, hingga sedotan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Hal ini tentu berdampak langsung terhadap biaya produksi per unit produk yang kami hasilkan," ujarnya dalam program Teras UMKM di Pro 4 RRI Makassar, Sabtu 16 Mei 2026.

Tekanan biaya semacam ini bukan fenomena baru di sektor minuman, tapi intensitasnya kali ini memaksa pelaku usaha bergerak lebih cepat dari biasanya. Pilihan yang tersedia tidak banyak: naikkan harga jual, atau tekan biaya dari sisi operasional. Bagi produsen lokal, opsi kedua agaknya lebih masuk akal untuk dipertahankan selama masih bisa.

Tirta Rifana memilih jalur efisiensi. Pengawasan ketat diterapkan terhadap penggunaan plastik kemasan di setiap tahapan produksi, dari pengemasan hingga distribusi. Langkah ini diklaim mampu menekan limbah sekaligus mendukung prinsip keberlanjutan yang makin sering ditagih konsumen dan regulator. Dua tujuan, satu kebijakan.

Edukasi internal juga masuk dalam strategi. Karyawan diarahkan lebih teliti dalam proses pengemasan agar kerusakan plastik yang berujung pemborosan bisa diminimalkan. Plastik yang masih layak pakai dimanfaatkan kembali sebagai langkah lanjutan. "Efisiensi operasional harus dimulai dari kedisiplinan dan kesadaran seluruh tim produksi. Penggunaan plastik yang tepat akan membantu perusahaan mengurangi biaya sekaligus menjaga lingkungan," tegas Nirwana.

Pertanyaannya: sampai kapan?

Margin industri minuman lokal tidak setebal pemain nasional yang punya skala ekonomi jauh lebih besar. Kenaikan harga bahan baku kemasan yang terus-menerus bisa jadi batu sandungan yang susah dielakkan, terlepas dari seberapa disiplin tim produksi menjalankan protokol efisiensi. Kalau data biaya ini bisa dipercaya sebagai tren jangka menengah, kalkulasinya cuma soal waktu sebelum harga jual ikut bergerak.

Nirwana berharap ada stabilisasi harga bahan baku di tingkat pasar, supaya pelaku usaha punya ruang napas lebih longgar dalam menjaga kestabilan harga untuk konsumen. Harapan yang wajar, meski realisasinya bergantung pada banyak faktor di luar kendali produsen lokal mana pun.