Sepanjang kuartal II 2026, harga smartphone baru melonjak 13 persen dibanding tiga bulan sebelumnya. Pasar langsung merespons dengan cara yang sulit diabaikan: konsumen bergeser ke perangkat bekas, dan pergeseran itu bukan lagi sekadar tren pinggiran.
Laporan FDM dari CCS Insight mencatat pengiriman smartphone global pada periode April-Juni 2026 tergerus 7 persen secara tahunan dan 3 persen dibanding kuartal pertama. Proyeksinya lebih suram lagi: total pengiriman sepanjang 2026 bisa amblas hingga 12 persen. Besar, untuk sebuah industri yang selama ini terbiasa tumbuh.
Tekanan itu tidak merata. Eropa dan Amerika Utara mencatat koreksi di kisaran satu digit rendah, relatif terkendali. Pasar berkembang, termasuk Asia Tenggara, dihajar lebih keras karena konsumennya memang sensitif terhadap guncangan harga. Kalau di pasar maju orang mungkin menunda upgrade enam bulan, di kawasan berkembang konsumen bisa langsung skip satu siklus generasi penuh.
Biang keroknya? Kelangkaan komponen memori secara global. FDM menyebut lonjakan harga memori sebagai salah satu pendorong utama mahalnya perangkat baru, dan kondisi ini diperkirakan belum akan mereda di paruh kedua 2026.
Pasar sekunder masuk sebagai pemenang sementara. Penjualan smartphone bekas tumbuh 3 persen secara tahunan, dan FDM memproyeksikan segmen ini bisa membukukan pertumbuhan sekitar 9 persen sepanjang tahun. Angka yang tidak main-main. Logikanya memang telanjang: ketika flagship terbaru semakin mahal, flagship generasi sebelumnya dalam kondisi bekas tiba-tiba terlihat jauh lebih masuk akal.
Di Indonesia, pergeseran ini sudah nyata terasa. Sejumlah perangkat premium yang dulu dibanderol belasan hingga dua puluhan juta rupiah kini bisa ditemukan di kisaran Rp4 jutaan. Samsung Galaxy S23 dengan chipset Snapdragon 8 Gen 2 for Galaxy, yang saat rilis dihargai hampir Rp14 juta, kini beredar di kisaran Rp6 juta hingga Rp8 juta. iPhone 14 Pro dengan Dynamic Island dan kamera 48MP yang rilis di kisaran Rp20 juta, sekarang bisa didapat antara Rp10 juta hingga Rp12 juta. Penurunan harga paling dramatis datang dari OPPO Find X5 Pro: dari Rp14,999 juta saat rilis ke kisaran Rp4,2 juta hingga Rp5,1 juta, penurunan sekitar 70 persen. Bak jatuh dari tebing.
Namun ada ironi yang mulai terbentuk. Permintaan yang meledak bertemu dengan pasokan yang justru mengetat. Di Amerika Serikat, volume program trade-in menyusut sehingga perangkat bekas yang masuk ke pasar ikut berkurang. Mesin pasokan utama industri refurbished sedang batuk. Ekspor perangkat bekas dari China dan Jepang sejauh ini membantu, tapi belum ada kepastian apakah aliran itu cukup untuk mengimbangi permintaan yang terus mekar.
Kalau pasokan terbatas sementara permintaan naik, ujungnya satu: harga bekas pun ikut terkerek. Selisih antara perangkat baru dan refurbished berpotensi menyempit, dan kalau itu terjadi, daya tarik pasar sekunder bisa terkikis dari dalam.
Bagi konsumen Indonesia yang sedang mengincar HP bekas, beberapa hal agaknya tidak boleh dilewatkan. Pastikan IMEI terdaftar resmi, cek kesehatan baterai, dan waspada terhadap harga yang terlalu jauh di bawah pasaran, karena itu sering kali bukan keberuntungan, melainkan tanda bahaya. Untuk iPhone, battery health idealnya masih di atas 85 persen. Soal kepercayaan, termasuk garansi, riwayat servis, dan keaslian komponen, menjadi krusial. Pembeli bukan cuma membeli perangkat. Mereka membeli ketenangan pikiran.
Pertanyaan besarnya bukan sekadar apakah konsumen bersedia beralih ke HP bekas. Mereka sudah mulai. Pertanyaannya: apakah industri refurbished bisa bergerak cukup cepat menyediakan perangkat berkualitas dalam jumlah memadai, sebelum harganya menyusul naik dan pilihan ini pun terasa tidak terjangkau lagi?